ANKARA
Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) pada Rabu mengutuk pembunuhan jurnalis veteran Al Jazeera Shireen Abu Akleh saat meliput serangan militer Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Shireen Abu Akleh, 51, ditembak mati saat meliput serangan Israel di kota Jenin pada Rabu pagi.
Wartawan lain, Ali Al-Samoudi, mendapat tembakan di punggung, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
"Sementara rincian lengkap dari pembunuhan mengerikan ini masih terus terungkap, kesaksian dari jurnalis yang bersamanya ketika dia terbunuh menunjukkan bahwa ini adalah serangan lain yang disengaja dan serangan sistematis terhadap seorang jurnalis," ungkap IFJ di Twitter.
Federasi yang berpusat di Brussel itu mencatat bahwa jurnalis, yang mengenakan rompi pers yang diidentifikasi dengan jelas, menjadi sasaran penembak jitu Israel.
“Kami akan berusaha menambahkan kasus ini ke pengaduan ICC yang diajukan oleh IFJ, merinci penargetan sistematis seperti itu,” tambah organisasi itu.
“Jika kami menuntut keadilan atas penargetan Rusia terhadap jurnalis Ukraina, kami harus menuntut diakhirinya, dan keadilan dari penargetan Israel dan pembunuhan jurnalis Palestina,” kata IFJ.
Pada Rabu, saluran televisi Al Jazeera yang berpusat di Doha menuduh pasukan Israel dengan sengaja membunuh reporternya “dengan serangan berdarah dingin.”
Mereka menyebut pembunuhan itu sebagai "kejahatan keji, yang hanya bertujuan untuk mencegah media melakukan tugas mereka."
Abu Akleh lahir di Yerusalem pada 1971, dan memperoleh gelar BA dalam jurnalisme dan media dari Universitas Yarmouk di Yordania.