Pizaro Gozali
JAKARTA
Mata Muhammad Al Khattab, 33, meleleh saat memimpin salat tarawih di masjid yang terletak di bilangan Tanah Abang, Jakarta pada Sabtu.
Berkali-kali lidahnya tertahan saat membaca qunut nazilah atau doa untuk memohon pertolongan.
Tak lama setalah itu, para jemaah yang memadati masjid ikut terisak, larut dalam syahdu doa yang dibacakan Khattab.
Khattab berkali-kali menyebut nama Indonesia dalam doanya agar dikaruniai keberkahan oleh Sang Pencipta.
Setelah itu, dia bermunajat meminta pertolongan untuk warga Gaza yang dikepung.
Seusai berceramah, Khattab mendapatkan sanjungan dari para jemaah.
“Suara Anda merdu, mengingatkan saya kepada Imam Masjidil Haram Syekh Abdurrahman Sudais,” kata seorang jemaah.
Lalu dia memperkuat hafalannya selama dua tahun hingga benar-benar melekat.
“Pendidikan hafalan Quran sangat kuat di Gaza. Ribuan orang sudah menjadi hafiz,” jelas dia kepada Anadolu Agency.
Menurut Khattab, banyaknya penghafal Alquran di Gaza tidak lepas dari peran para keluarga yang bertekad menjadikan anak-anak mereka menguasai kitab suci umat Islam itu.
Sebab, kata Khattab, masyarakat Gaza meyakini Alquran adalah kunci bebasnya Palestina.
“Para keluarga selalu mengajarkan anak-anak mereka untuk hafal Alquran,” jelas dia.
Ramadan ini adalah kesempatan ketiga bagi Khatab mengunjungi Indonesia.
Sebelumnya pada 2013 dan 2015, dia sempat menginjakkan kaki ke Indonesia untuk memimpin salat tarawih dan memberi ceramah selama sebulan penuh.
Namun, keluar dari Gaza bukan hal yang mudah bagi ayah tiga anak ini. Apa lagi hingga bisa menyapa saudara-saudaranya di Jakarta.
Khattab menyampaikan sejak Presiden Mesir Muhammad Mursi dikudeta pada 2013, jalur keluar - masuk Gaza menjadi sangat sulit.
Sejak itu, kata Khattab, perbatasan Mesir - Gaza di Rafah rata-rata dibuka sekali dalam sebulan atau sekitar 30-50 hari dalam setahun.
“Tetapi selama Ramadan tahun lalu dan tahun ini, perbatasan Rafah terbuka. Ini semua berkat usaha dan kesabaran saudara-saudara kita di Gaza,” terang dia.
Khattab hanyalah satu dari 15 ulama Palestina yang menjadi imam tarawih selama bulan Ramadan di Indonesia.
Mereka berasal dari wilayah Gaza, Tepi Barat, dan para diaspora Palestina.
Selain memimpin tarawih, para imam juga akan memberikan informasi mengenai kondisi Palestina.
Iqbal Mubarok, dari Yayasan Sahabat Alaqsha, yang membersamai para imam mengatakan program ini mulai mereka lakukan sejak tahun 2011.
Sahabat Alaqsha menamakan kegiatan ini dengan “Siraman Manis Ramadhan” atau Silaturahim Imam-imam Palestina ke Indonesia.
Menurut Iqbal, para imam disebar ke wilayah Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Malang, Pekanbaru, Solo, Balikpapan, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lainnya.
“Kami ingin menyambung tali silaturahmi keluarga-keluarga di Palestina dengan Indonesia,” jelas dia.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga sempat menjamu kedatangan para imam di balai kota.
Anies berpesan kepada para imam untuk menemui sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia dalam Ramadan kali ini.
“Tinggalkan jejak kebaikan sebanyak mungkin, dan jadikanlah ini Ramadhan terbaik untuk mereka.”
Anies mengaku sambutannya kepada para imam ini bukan semata-mata sebagai imam, tapi sebagai saudara dekat karena Indonesia juga pernah mengalami penjajahan.
“Kami tahu rasa sakitnya dijajah dan dihinakan dan seperti Anda juga, kami memulai perjuangan melawan penjajah dengan ilmu dan Pendidikan,” terang dia.
Tumbuhkan solidaritas
Aldo Kahfi, 25, pemuda di Jakarta mengaku bersyukur bisa bertemu langsung imam Palestina karena bisa mendapatkan langsung update dari wilayah yang terjajah Israel itu.
“Kita jadi tahu kondisi terkini di Palestina dan dapat membantu mereka,” kata dia.
Aldo juga mengatakan banyak pemuda milenial saat ini membutuhkan informasi valid mengenai kondisi Palestina.
“Edukasi dari imam menumbuhkan solidaritas kemanusiaan generasi milenial kepada Palestina,” kata dia.
Dia berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan untuk membawa spirit perjuangan memerdekakan Palestina kepada masyarakat Indonesia.