09 Desember 2024•Update: 10 Desember 2024
ISTANBUL
Bashar al-Assad, pemimpin rezim Baath Suriah yang terguling, memutuskan untuk mengundurkan diri dan meninggalkan Suriah, kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan pada Minggu kemarin.
Menyatakan keprihatinan atas situasi di Suriah, kementerian Rusia itu mengatakan kepergian Assad muncul sebagai hasil negosiasi yang diadakan antara rezimnya dan pasukan yang mengambil bagian dalam konflik bersenjata.
Kemlu Rusia juga mengklaim bahwa Assad memberikan instruksi agar kekuasaan ditransfer secara damai.
Dia juga menghimbau semua pihak untuk meninggalkan aksi kekerasan dan sebaliknya menyelesaikan semua masalah melalui cara-cara politik.
Kementerian tersebut menambahkan bahwa Rusia berinteraksi dengan semua kekuatan oposisi di Suriah, menyerukan penghormatan terhadap pandangan semua kekuatan etnis dan agama di Suriah, dan mendukung upaya untuk membangun proses politik inklusif di bawah Resolusi Dewan Keamanan PBB 2254.
Pangkalan militer Rusia di Suriah "dalam keadaan siaga tinggi," kata kemlu Rusia, sambil menambahkan bahwa tidak ada ancaman serius terhadap keamanan tentara Rusia di Suriah.
Otoritas Rusia menambahkan bahwa semua tindakan yang diperlukan sedang diambil untuk menjamin keselamatan warga negara Rusia di Suriah.
Jalan menuju runtuhnya rezim Assad
Bentrokan pecah antara pasukan rezim Assad dan kelompok bersenjata anti-rezim pada 27 November di daerah pedesaan sebelah barat Aleppo, kota besar di Suriah utara.
Pada 30 November, kelompok anti-rezim menguasai sebagian besar pusat Aleppo dari pasukan rezim, dan pada hari yang sama, mereka menguasai seluruh provinsi Idlib.
Setelah bentrokan sengit pada Kamis lalu, kelompok oposisi merebut pusat kota Hama dari pasukan rezim.
Kelompok anti-rezim merebut beberapa permukiman di provinsi Homs yang strategis dan penting, pintu gerbang menuju ibu kota Damaskus, dan mulai maju ke sana.
Pada Jumat, kelompok oposisi bersenjata melancarkan operasi di provinsi Daraa di perbatasan Suriah dengan Yordania dan merebut kembali pusat kota dari pasukan rezim setelah bentrokan.
Pada Sabtu, seluruh provinsi Suwayda di selatan Suriah juga berada di bawah kendali kelompok oposisi. Pada hari yang sama, kelompok oposisi lokal di Quneitra juga menguasai pusat provinsi tersebut.
Di provinsi Homs, yang berdekatan dengan ibu kota, kelompok anti-rezim pada Sabtu menguasai pusat provinsi tersebut.
Kelompok yang terus maju melawan pasukan rezim Assad memasuki pinggiran selatan Damaskus pada Sabtu sore.
Pasukan rezim juga mundur dari Kementerian Pertahanan dan Dalam Negeri serta bandara internasional di Damaskus.
Ketika kelompok bersenjata anti-rezim mulai mendominasi ibu kota, rezim Assad pada Minggu pagi dengan cepat kehilangan seluruh kendali atas Damaskus.
Secara terpisah, Tentara Nasional Suriah (kelompok oposisi) melancarkan Operasi Fajar Kebebasan terhadap kelompok teroris PKK/YPG di daerah pedesaan Aleppo pada 1 Desember, setelah itu pusat distrik Tel Rifaat dibebaskan dari teroris PKK/YPG.