Sorwar Alam
Warga asing yang menetap di Turki mengenang keberanian para pemimpin dan warga Turki pada malam 15 Juli 2016 yang menginspirasi mereka untuk turut turun ke jalanan bergabung dengan aksi protes melawan percobaan kudeta. Perlawanan bersejarah warga Turki terjadi menyusul seruan Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mempertahanakan demokrasi mereka.
Organisasi Teroris Fetullah (FETO) dan pemimpinnya Fetullah Gullen mendalangi percobaan kudeta 15 Juli tahun lalu, mengakibatkan 250 orang tewas sebagai martir dan hampir 2.200 orang luka-luka.
Abdullatif Mounadil, seorang dokter asal Moroko yang menetap di Ankara mengatakan bahwa pada malam kudeta ia mengendarai mobil dari rumah ayah mertuanya menuju rumah sakit Etimesgut setelah mendapat panggilan darurat untuk “tugas khusus”.
“Jalan-jalan kosong. Beberapa helikopter dan pesawat jet melintas di atas saya. Saya takut kalau-kalau mereka menabrak mobil saya karena kecepatannya sangat tinggi,” katanya.
Mounadil yang bekerja sebagai wakil kepala rumah sakit mengatakan ia mendirikan meja darurat di rumah sakit.
“Penanganan pertama adalah seseorang yang bersimbah darah karena jatuh dari mobil tank. Pada akhirnya ia tidak selamat.”
Mounadil juga mengenang seorang anggota polisi yang ditembak tentara kudeta di istana kepresidenan. Setelah lima jam perawatan, polisi tersebut membuka mata dan berkata: “Mereka menembaknya, mereka menembaknya”. Ternyata ia menyaksikan salah satu rekannya ditembak mati di tempat kejadian.
Olga Keskin, ibu dua anak asal Rusia yang menikahi pria Turki tahun 1996, menceritakan pengalamannya saat bekerja di Women’s Solidarity Foundation di Ankara ketika malam kudeta. Ia mengkhawatirkan anak-anaknya di rumah, dekat Akademi Medis Militer Gulhane (GATA), apalagi saat itu suaminya tengah berada di luar negeri .
“Saat itu saya sangat sibuk dengan pekerjaan saya. Salah satu anak saya menelepon dan memberi tahu saya banyak pesawat jet melintas di atas rumah kami. Karena rumah kami dekat dengan GATA, saya pikir itu hal yang wajar.”
Setelah pengumuman komplotan kudeta disiarkan di TRT, Keskin semakin khawatir tidak bisa pulang ke rumahnya.
“Anak-anak saya menangis. Mereka ketakutan mendengar banyak bunyi ledakan dan tembakan. Saya coba menenangkan mereka, tapi percuma, karena saya juga sangat panik. Saya tidak tahu harus berbuat apa… Saya tidak pernah ada di situasi seperti itu sebelumnya.”
Keskin mengatakan bahwa ia dan putrinya mengalami trauma. “Satu bulan setelah malam kudeta, saya tidak bisa tidur nyenyak. Saya takut dengan suara pesawat jet,”
Keskin juga terkesan dengan perlawanan warga Turki terhadap kelompok pengkudeta.
“Sebenarnya, lingkungan rumah kami selalu sepi dan tenang. Namun malam itu orang-orang berapi-api dan berbondong-bondong turun ke jalanan,” jelasnya.
Cihan Karim, ahli pengembangan perangkat lunak asal Bangladesh yang menetap di Istanbul menceritakan bahwa ia mendengar kabar adanya kudeta dari istrinya, Pinar Karim. Mereka terkejut dengan pernyataan Perdana Menteri Binali Yildirim, pejabat tinggi negara pertama yang mengumumkan adanya “aktivitas militer” tidak terduga yang sedang berlangsung.
Setelah presiden mengajak rakyat untuk mempertahankan demokrasi, Karim dan istrinya pergi beribadah sebelum akhirnya pergi bersama-sama dengan rekan-rekannya bergabung dengan aksi protes melawan kudeta di dekat rumah Presiden Erdogan di daerah Uskudar, di sisi Asia Istanbul.
“Itu adalah keputusan paling membanggakan di hidup saya bersama dengan istri saya,” kata Karim.
Karim mengatakan bahwa Turki adalah bangsa hebat dengan sejarah besar yang berasal dari pengorbanan besar.
Nedim Cavdari, dokter asal Pakistan yang menetap di Istanbul mengatakan bahwa kelompok-kelompok Islam di Pakistan turun ke jalan-jalan di Karachi dan berdoa bersama untuk Turki setelah mendengar kabar adanya kudeta. Malam itu orang-orang di Pakistan meneleponnya untuk menanyakan kondisi Turki.
“Saya emosional. Orang-orang dari jarak ribuan kilometer sangat mengkhawatirkan keadaan Turki,” ungkapnya.
Cavdari juga mengingat bagaimana orang-orang yang terluka parah dibawa ke depan kantor polisi di jalan Vatan, Istanbul.
“Saya mendengar ada wanita yang dilindas mobil tank hingga badannya terbagi dua,” kata Cavdari.
Ladi Berhamaj, spesialis perdagangan Albania yang pindah ke Turki 18 tahun lalu dan menikahi wanita Turki, menggambarkan seruan Erdogan pada malam kudeta sebagai “pidato heroik” yang memberi dampak besar bagi rakyat dan mendorong mereka semua untuk “melindungi negara dan demokrasi mereka”.
Pesan Erdogan pada rakyat malam itu: “Jangan biarkan orang lain merusak negara kita yang indah, bersejarah, dan beradab. Jangan rusak harapan jutaan orang”.
Burhan Mollamusa, dokter gigi asal Suriah yang sudah tinggal di Turki selama 12 tahun, mengatakan bahwa ia juga ikut demonstrasi di Pangkalan Angkatan Laut Golcuk di provinsi Izmit bersama-sama dengan keluarga ayah mertuanya.
“Ayah mertua saya adalah seorang tentara veteran operasi Siprus . Sejak awal ia menyadari adanya usaha kudeta. Ia mengajak kami semua pergi ke Pangkalan Golcuk. Sebagai orang Suriah, saya tahu akibat dari kekacauan dan kekejaman kudeta. Saya tahu betul penderitaan keluarga saya di Suriah. Karena itu, meskipun istri saya melarang saya, saya memutuskan untuk ikut aksi protes,” kata Mollamusa.
Ahmad Radi, seorang dosen dari Yordania yang mengajar di Universitas Yeditepe Istanbul selama hampir dua tahun, mengatakan bahwa reaksi cepat dari Presiden Erdogan mengubah keseluruhan peristiwa 15 Juli.
“Perasaan saya buruk. Saat itu adalah saat-saat kritis, di mana masa depan kami akan buruk jika upaya kudeta berhasil. Namun reaksi cepat dari pimpinanTurki berhasil menenangkan kami ,” ungkap Radi.
news_share_descriptionsubscription_contact

