25 Oktober 2017•Update: 25 Oktober 2017
Halit Suleyman
AZAZ
Sebanyak 37 kesatuan yang selama ini bergerak dibawah Pemerintahan Sementara Suriah, Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA), memutuskan untuk hidup dan bergerak bersama di wilayah Operasi Euphrates Shield yang sudah bersih dari Daesh.
Wilayah Operasi Euphrates Shield ini merupakan kawasan intervensi militer Turki.
Dalam pertemuan tersebut, ketiga pihak memutuskan untuk bekerja sama dalam restrukturisasi di wilayah Operasi Euphrates Shield.
Mereka juga menyatakan tidak akan memberikan kesempatan bagi pihak yang ingin “menyebarkan fitnah” di wilayah tersebut.
Ketiga pihak ini juga berkomitmen untuk mendukung perdamaian dan keamanan yang tercapai di wilayah Operasi Euphrates Shield di utara Aleppo, agar tercipta seluruh pelosok negara terutama Idlib.
Keputusan yang diambil dalam rapat diuraikan sebagai, “menyatukan administrasi di wilayah Operasi Euphrates Shield dan administrasi akan diserahkan kepada pemerintah sementara. Pendapatan yang masuk akan dikumpulkan menjadi satu dan dikelola oleh pemerintah sementara. Pendapatan akan dibagikan kepada pemerintah sementara, majelis lokal dan kelompok-kelompok secara merata."
Operasi Euphrates Shield dimulai pada 24 Agustus 2016 dibawah pimpinan Turki dengan tujuan meningkatkan keamanan, mendukung pasukan koalisi dan menghilangkan ancaman teror di sepanjang garis perbatasan Turki menggunakan Tentara Pembebasan Suriah yang didukung oleh artileri dan jet Turki.