17 Juli 2017•Update: 18 Juli 2017
By Michael Hernandez
WASHINGTON
Uni Emirat Arab (UEA) merupakan aktor dibalik insiden peretasan yang kemudian berimbas kepada pengucilan Qatar dari negara-negara tetangganya, menurut sebuah laporan media pada Minggu.
Laporan Washington Post itu mengatakan Abu Dhabi lah yang mengatur serangan siber tersebut, meretas situs berita dan laman media sosial milik Qatar untuk “memposting kutipan-kutipan palsu dengan nama Emir Qatar, Sheikh Tamim Bin Hamad al-Thani”, kata mereka berdasarkan informasi yang diperoleh dari pejabat intel AS yang namanya tidak ingin disebutkan.
Kampanye siber itu kemudian mengakibatkan retaknya hubungan diplomatis antara Doha dan lima negara Teluk Arab, dipimpin oleh Arab Saudi.
Sejak 5 Juni, Qatar mengalami blokade jalur darat, laut dan udara yang dijatuhkan oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain dan Yaman, yang menuduh Doha mendukung terorisme.
Peretasan itu dilakukan hampir dua minggu sebelumnya pada 24 Mei, sehari setelah direncanakan oleh beberapa pejabat UEA.
Laporan yang dibocorkan oleh intel mengatakan emir Qatar menyebut Iran sebagai “negara Islam yang berkuasa”, dan memuji organisasi Hamas di Palestina, diantara klaim-klaim kontroversial lainnya.
Komentar-komentar itu yang mendorong beberapa negara melarang semua media Qatar sebelum kemudian memutuskan hubungan dengan Doha.
Abu Dhabi membantah tuduhan itu, dengan utusan mereka di Washington mengatakan laporan Post adalah “palsu”.
“UEA tidak berperan sama sekali dalam dugaan peretasan yang digambarkan berita itu,” bunyi pernyataan mereka.
Selama krisis diplomatik Presiden AS Donald Trump dan pemerintahannya berseberangan dengan departemen luar negeri AS dan menlu Rex Tillerson, yang menekan pentingnya kompromi dan mengatakan ketegangan itu dapat melemahkan kampanye anti-ISIS.
Namun Trump bersikukuh dengan Riyadh serta sekutunya memanggil Qatar “pendukung berat” terorisme.