Seleshi Tessema
ADDIS ABABA, Ethiopia
Nebyu Sele Enat dan temannya Halwet Sele Enat yang belum lagi genap berusia satu setengah tahun tersenyum lebar, saling berlomba-lomba merebut perhatian perawat mereka, Meraf Eyasu.
Eyasu, 29 tahun, telah merawat banyak tubuh-tubuh kecil di bawah atap Sele Enat, sebuah gedung tua yang disesaki dengan kisah-kisah menyedihkan dan mengharukan. Gedung ini terletak di bagian selatan ibu kota Ethiopia, Addis Ababa.
Sekitar setahun silam, saat matahari pagi mengintip di langit ibu kota itu, Nebyu dan Halwet terjaga dan menangis keras-keras, yang satu di dekat sebuah gereja sementara yang lain di tempat sampah. Orang-orang yang tengah berjalan menuju gereja dan hendak pergi kerja merasa kasihan dan membawa bayi-bayi itu ke kantor polisi.
Petugas polisi yang menerima mereka lah yang kemudian menyematkan nama Nebyu dan Halwet kepada dua bayi itu.
Nama kedua mereka, Sele Enat, bukanlah nama ayah biologis mereka. Namun nama sebuah panti asuhan yang menerima anak-anak yang kehilangan satu atau kedua orang tua mereka karena AIDS atau penyakit lain, atau ditelantarkan oleh orang tuanya karena berbagai alasan lain.
Eyasu merupakan satu dari beberapa perawat yang bekerja di Sale Enat. Di tempat ini, sekitar 70 anak-anak yatim piatu tinggal. Beberapa dari anak-anak itu sehat, beberapa lainnya divonis positif HIV, sementara beberapa lagi adalah penyandang disabilitas.
Populasi yang rentan
Menurut data UNCEF, Ethiopia, negara dengan populasi terbanyak kedua di Afrika yakni sekitar 102 juta jiwa, memiliki jumlah anak yatim piatu terbesar di dunia. Hampir 13 persen anak-anak di negara ini hidup tanpa satu atau kedua orang tua mereka.
"Ada sekitar 4,5 juta anak yatim piatu ... kira-kira 800.000 di antaranya kehilangan orang tua karena AIDS," sebut UNICEF, yang memperkirakan jumlah anak-anak yang terinfeksi AIDS ada sekitar 2,5 juta.
Angka resmi dari pemerintah menyatakan anak-anak yang divonis HIV-positif sebanyak 160.000.
Achamyelehe Alebachew, ahli senior yang tergabung dalam Kantor Pencegahan dan Kontrol HIV/AIDS Ethiophia (FHAPCO), berkata kepada Anadolu Agency bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang paling terdampak epidemi HIV/AIDS, yang menyebabkan banyak keluarga meninggal dunia dan memaksa komunitas-komunitas menghabiskan waktu produktif mereka untuk merawat pasien dan anak-anak yatim piatu yang terkena virus ini.
"Selama dua dekade, kami membangun pusat pengobatan HIV/AIDS gratis di semua rumah sakit dan klinik di seluruh penjuru negeri," kata dia.
"Pusat pengobatan ini menyediakan konsultasi dan tes darah gratis, juga obat-obatan anti-retroviral, dan pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak."
Sekitar 718.000 orang di Ethiopia hidup dengan HIV/AIDS, dan setiap tahun sekitar 20.000 orang meninggal karena AIDS dan meninggalkan lebih dari 100.000 anak-anak, tambah dia.
"Kami harus meningkatkan angka pencegahan penularan AIDS dari ibu ke anak yang kini sudah mencapai 60 persen. Kami juga mencoba berbagai cara supaya jumlah anak-anak yang mengonsumsi obat anti-retroviral bertambah," dia menjelaskan.
Alebachew berujar, anak-anak yatim piatu ini kebanyakan dirawat oleh keluarga mereka, berbagai LSM, dan institusi agama.
"Tapi, kebutuhan ini melebihi sumber daya yang ada," kata dia, menambahkan bahwa baru-baru ini banyak pegawai pemerintah yang membantu anak-anak yatim piatu ini dengan cara mendonasikan sebagian dari upah bulanan mereka.
"Ini adalah contoh yang bagus, dan kami berencana menerapkan model dukungan ini secara nasional."
‘Mengharukan dan menguatkan’
Saban pagi, Sele Enat dipenuhi dengan suara gelak tawa anak-anak yang bermain di lapangan dan ruangan-ruangannya. Di salah satu ruangan, tampak pasangan dari Eropa dan Amerika Utara hendak mengadopsi anak. Mereka silih berganti menggendong dan bermain dengan Nebyu dan beberapa anak lainnya.
Namun ada dua anak yang tak mendapat perhatian calon orang tua adopsi itu. Keduanya merupakan anak dengan disabilitas dan hanya bisa tergolek lemah di atas kasur.
"Kedua anak ini sudah kami rawat sejak dua tahun lalu," kata Zelalem Eteffa, wakil pengelola panti asuhan Sale Enet. "Orang tua mereka menolak untuk merawat atau tak sanggup membesarkan mereka, kemudian meninggalkan mereka di sini. Kami menyediakan perawatan yang diperlukan."
Menurut Etefa, Sale Enet didirikan sekitar 10 tahun lalu oleh seorang wanita yang menyadari permasalahan yang harus dihadapi anak-anak yang menjadi yatim piatu karena AIDS.
"Sejak saat itu, kami mulai merawat anak-anak yang ditelantarkan, atau ditinggal mati orang tua mereka karena AIDS dan penyakit lain," ujar dia, sambil menambahkan mereka juga berusaha menemukan keluarga lokal dan asing yang mau mengadopsi anak-anak tersebut.
Di sini jugalah, guratan takdir anak-anak ini terlihat.
"Kami harus memastikan anak-anak ini bebas dari virus HIV, dan ketika hasil tes menunjukkan beberapa di antara mereka ternyata positif HIV, kami sangat sedih," ujar Eyasu dengan nada melirih.
Dia melanjutkan, "Ketika dokter meminta kami memberikan terapi anti-retroviral, anak-anak itu bertanya kenapa anak-anak lain tak harus minum obat. Bagaimana kami harus menjawab? Kami hanya bisa meneteskan air mata."
Konselor profesional yang kemudian bertugas memberitahu anak-anak tadi alasan mereka harus minum obat sepanjang hidup mereka.
"Beberapa anak hancur berkeping-keping, beberapa hanya bisa pasrah menerima nasib. Namun ketika mereka beranjak dewasa, semuanya normal bahkan banyak yang menjadi mahasiswa dengan nilai yang baik."
"Kisah-kisah ini adalah kisah yang menguatkan," lanjut dia.
Etefa berkata, anak-anak dengan AIDS kerap menjadi objek diskriminasi dan stigma. "Yang tidak tahan akan meninggalkan komunitas mereka dan berakhir di jalanan. Mereka berpotensi menjadi pekerja anak atau terjebak dalam prostitusi anak," kisah dia.
"Ada satu lagi nasib sedih dari anak-anak yatim piatu yang terjangkit AIDS," ujar dia. "Tidak ada yang tertarik mengadopsi mereka."
Mimpi yang hancur
Pada 10 Januari, sebuah berita menghancurkan mimpi Nebyu, Hewlet, dan tiga pasangan Eropa yang sedang dalam proses mengadopsi anak dari Sele Enat.
Kabar itu menyebut Parlemen Ethiopia reses, setelah meloloskan peraturan yang melarang semua proses adopsi internasional. Peraturan itu menyebutkan bahwa "anak-anak yatim piatu dan terlantar akan dirawat oleh orang tua asuh lokal dan dengan mekanisme tradisional."
Selama dua puluh tahun terakhir, Ethiopia adalah sumber adopsi internasional bagi keluarga-keluarga dari Eropa dan Amerika, termasuk bintang Hollywood Brad Pitt dan Angelina Jolie, yang mengadopsi putri mereka, Zahara, dari sini.
Namun berbagai lembaga hak asasi dan Pemerintah Ethiopia menyerukan bahwa proses adopsi ini rentan berubah menjadi "bisnis pembelian bayi" dan bisa berakhir menjadi kasus perdagangan dan penyiksaan anak.
"Keputusan ini dengan cepat menghancurkan impian Nebyu dan banyak keluarga asing yang ingin mengadopsi anak. Padahal mereka tinggal selangkah lagi bisa membawa pulang anak-anak kami," tukas Etefa.
Menurut dia, pelarangan ini memang bisa menutup pintu atas kasus kekerasan yang kerap diasosiasikan dengan adopsi internasional. Namun untuk mengharapkan adopsi lokal bisa mengisi celah yang diciptakan oleh pelarangan ini, tentu masih jauh. Keluarga adopsi lokal harus terlebih dahulu dibujuk dan dimotivasi supaya mau mengambil anak-anak ini.
Nebyu dan Hawlet, hingga kini belum diketahui apakah mereka terjangkit virus HIV, belum cukup besar untuk mengerti apa arti pelarangan adopsi internasional ini kepada hidup mereka. Yang mereka mengerti hanyalah bermain, sementara mereka tumbuh menuju masa depan yang tak pasti.
news_share_descriptionsubscription_contact



