Muhammad Abdullah Azzam
20 Februari 2021•Update: 22 Februari 2021
Beyza Binnur Donmez
ANKARA
Amerika Serikat (AS) secara resmi bergabung kembali ke dalam Kesepakatan Iklim Paris, ungkap Departemen Luar Negeri AS pada Jumat.
Deplu AS mengatakan perubahan iklim dan sains "tidak akan pernah" lagi berada di luar kebijakan luar negeri Washington.
Presiden Joe Biden menandatangani perintah untuk bergabung kembali ke dalam perjanjian tersebut pada hari pertamanya menjabat pada 20 Januari.
Perjanjian penting yang bertujuan untuk mengurangi emisi karbon yang dipilih mantan Presiden Donald Trump untuk keluar secara sepihak dalam proses yang diselesaikan pada 4November.
Kesepakatan tersebut bertujuan untuk membatasi pemanasan global dan mencapai dunia ramah karbon pada 2050.
"Perjanjian Paris adalah kerangka kerja yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk aksi global," kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken dalam sebuah pernyataan.
"Kami tahu karena kami membantu merancang dan mewujudkannya. Tujuannya sederhana dan ekspansif: membantu kita semua menghindari bencana pemanasan planet dan membangun ketahanan di seluruh dunia terhadap dampak perubahan iklim yang sudah kita lihat," ungkap Blinken.
"Anda telah melihat dan akan terus melihat kami merangkai perubahan iklim ke dalam percakapan bilateral dan multilateral terpenting kami di semua tingkatan. Dalam percakapan ini, kami bertanya kepada para pemimpin lain: bagaimana kami bisa berbuat lebih banyak bersama-sama?" tambah Blinken.
Menekankan para ilmuwan berada di pusat prioritas kebijakan dalam dan luar negeri Washington, Blinken mengatakan perubahan iklim dan diplomasi sains tidak akan pernah lagi berada di luar diskusi kebijakan luar negeri mereka.