Ebu Bekir Askin
18 Mei 2022•Update: 21 Mei 2022
TRIPOLI, Libya
Perdana Menteri yang ditunjuk parlemen Libya Fathi Bashagha pada Selasa mengumumkan akan menjalankan pemerintahannya di kota Sirte mulai Rabu.
Dalam sebuah pernyataan dari Sirte menyusul bentrokan antara kelompok-kelompok bersenjata, Bashagha mengatakan mereka percaya pada proses demokrasi dan transisi pemerintahan secara damai.
Dia mengatakan pemerintahnya akan mulai bekerja dari Sirte dan akan memasuki Tripoli hanya dengan cara damai.
Bentrokan meletus di Tripoli antara kelompok bersenjata yang setia kepada Perdana Menteri Abdul Hamid Dbeibeh dan Bashagha, yang baru-baru ini ditunjuk sebagai perdana menteri oleh parlemen yang berbasis di Tobruk.
Bashagha mencapai Tripoli pada Selasa malam untuk mengambil alih pemerintahan dari Dbeibeh, yang telah menolak untuk menyerahkan kekuasaan.
Namun, sebuah sumber keamanan mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Bashagha terpaksa meninggalkan ibukota setelah bentrokan sengit meletus antara kedua belah pihak.
Sementara itu, Aljazair menyampaikan keprihatinan atas perkembangan di "negara saudara Libya" setelah terjadinya konflik di Tripoli, kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.
Aljazair juga menyerukan pihak-pihak di Libya "untuk menahan diri atas meningkatnya ketegangan" dan menekankan bahwa "untuk negara yang demokratis dan modern, kepentingan terbaik Libya harus diprioritaskan."
Selama lebih dari dua bulan, ada dua pemerintahan di Libya yakni pemerintah persatuan nasional yang dipimpin Dbeibeh dan yang diberikan kepercayaan pada awal Maret oleh parlemen yang berbasis di Tobruk.
Dbeibeh sebelumnya mengatakan dia hanya akan menyerahkan otoritas kepada pemerintah melalui “parlemen terpilih”, yang menimbulkan kekhawatiran negara kaya minyak itu bisa tergelincir kembali ke dalam perang saudara.