Rhany Chairunissa Rufinaldo
25 Februari 2019•Update: 25 Februari 2019
Yusuf Ozcan
PARIS
Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron baru-baru ini, yang mengatakan bahwa anti-Zionisme adalah bentuk anti-Semitisme, menuai kritik.
Para kritikus berpendapat bahwa menjadi kritis terhadap Israel dan kebijakan agresifnya di Palestina tidak boleh dicap sebagai anti-Semitisme.
"Prancis ingin dekat dengan negara Zionis Israel. Macron ingin menunjukkan bahwa dia selaras dengan orang-orang Yahudi dan Dewan Yahudi di negara itu,” kata Eksekutif Komunikasi Uni Eropa untuk Perdamaian Pierre Abecassis kepada Anadolu Agency.
Pada Rabu, Macron mengatakan anti-Zionisme adalah bentuk anti-Semitisme dan dia berjanji untuk mengadopsi definisi anti-Semitisme yang dirilis Aliansi Internasional Holocaust Remembrance pada jamuan makan malam dengan para pemimpin Yahudi.
"Macron menjelaskan bahwa dia telah menyerah pada tekanan lembaga-lembaga Yahudi dan lobi-lobi pro-Israel di negara itu," kata Abecassis.
“Anti-Zionisme dan anti-Semitisme harus dianggap setara, yang berarti bahwa mereka yang mengkritik Zionisme akan dihukum. Ini mengkhawatirkan,” tambahnya.
Mengkritik pernyataan Macron yang mendukung Zionisme, jurnalis Prancis Dominique Vidal mengatakan bahwa kritik terhadap Zionisme seharusnya tidak dilarang di Prancis dan Anti-Zionisme seharusnya tidak dihukum sebagai anti-Semitisme.
"Pemerintah berusaha untuk memfitnah pergerakan rompi kuning dengan menggunakan serangan verbal terhadap Alain Finkielkraut. Mengidentifikasi gerakan rompi kuning sebagai anti-Yahudi adalah sebuah kegagalan," kata Vidal.
Finkielkraut adalah seorang pemikir Prancis yang dikenal dengan ucapan anti-Muslim dan rasis.