Wassim Seifeddine
11 Desember 2017•Update: 12 Desember 2017
Wassim Seifeddine
BEIRUT
Unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Beirut, pada Minggu, untuk memprotes keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, berakhir ricuh.
Demonstran membakar ban dan bendera AS dan Israel sambil berusaha menerobos pagar kawat berduri yang dipasang di sekitar kompleks kedutaan.
Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang mengamuk. Sejumlah demonstran ditahan saat kericuhan terjadi.
"Unjuk rasa ini tidak terbatas pada partai atau sekte tertentu. Ini adalah demonstrasi nasional yang diikuti oleh setiap umat Kristen dan Muslim yang meyakini Yerusalem adalah ibu kota abadi Palestina," jelas pimpinan Hamas Ahmet al-Hut kepada Anadolu Agency.
Sekretaris Jenderal Partai Komunis Lebanon, Hanna Gharib, menyebutkan bahwa pernyatan akan memicu gelombang pengungsian baru.
Lewat pernyataan, Gharib menyerukan pada negara-negara Arab untuk menghentikan seluruh program kerja sama dengan AS dan memulangkan para duta besarnya.
Trump pada Rabu lalu mengumumkan bahwa AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan kedubes AS akan dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Perubahan dramatis dalam kebijakan Washington mengenai Yerusalem memicu sejumlah aksi protes di wilayah Palestina dan negara-negara Muslim.
Yerusalem masih menjadi poros konflik Israel-Palestina, karena orang-orang Palestina berharap Yerusalem Timur akan menjadi ibu kotanya di masa mendatang.