Muhammad Abdullah Azzam
19 Desember 2020•Update: 20 Desember 2020
Jeyhun Aliyev, Sarp Ozer, Seda Sevencan
KIEV, Ukraina
Menteri luar negeri dan menteri pertahanan Turki pada Jumat bertemu dengan perdana menteri Ukraina untuk membahas persiapan pertemuan Dewan Strategis Tingkat Tinggi Turki-Ukraina ke-9 serta menghadiri pertemuan “Quadriga”.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan Menteri Pertahanan Hulusi Akar pada Jumat mengadakan pertemuan dengan Denys Shmyhal di ibu kota Ukraina, Kiev.
Berbicara pada pertemuan tersebut, Hulusi Akar mengatakan Turki dan Ukraina memiliki hubungan kemitraan strategis sejak 2011, dan menekankan bahwa hubungan bilateral mereka "sangat baik".
Turki mendukung integrasi Ukraina ke dalam lembaga-lembaga Euro-Atlantik, kata Akar, menyoroti pentingnya memastikan keamanan dan kesejahteraan Tatar Krimea serta melindungi hak dan kepentingan mereka.
Merujuk pada kerja sama bilateral di bidang industri pertahanan, Akar mengatakan jika peningkatan kerja sama ini menjadi lebih maju di masa mendatang, maka akan menguntungkan baik Turki maupun Ukraina.
"Melakukan pertemuan yang bermanfaat dengan PM Ukraina Denys Shmyhal. Volume perdagangan kami hampir USD5 miliar; target kami adalah USD10 miliar. Perjanjian Perdagangan Bebas akan membantu kami mencapai tujuan ini," kata Cavusoglu di Twitter.
“Kerja sama kita di segala bidang mulai dari energi hingga industri pertahanan,” tambah dia.
Setelah pertemuan dengan perdana menteri Ukraina, Cavusoglu dan Akar juga bertemu dengan warga Ahiska dan Gagauz Turki yang tinggal di Ukraina.
Mereka juga bertemu Halit Cevik, kepala Misi Pengamatan Khusus OSCE untuk Ukraina. Dalam pertemuan itu, Cavusoglu membahas situasi terbaru di wilayah Donbass timur Ukraina.
Menggarisbawahi bahwa duta besar Turki yang memimpin misi sejak awal memenuhi tugas penting, Cavusoglu mengatakan Donbass harus diselesaikan secara diplomatis dan Perjanjian Minsk harus dilaksanakan sepenuhnya.
Pada Jumat, pejabat pertahanan kedua negara juga menandatangani perjanjian tentang kendaraan udara tanpa awak dan korvet, tulis Ismail Demir, kepala Direktorat Industri Pertahanan Turki di Twitter.
Berdasarkan kesepakatan pengadaan, Ukraina ingin memperkuat angkatan lautnya untuk meningkatkan keamanan di Laut Hitam dan Laut Azov.