Umar Idris
05 Februari 2021•Update: 06 Februari 2021
JAKARTA
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 mengalami kontraksi minus 2,07 persen, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat.
Menurut Kepala BPS Suhariyanto, kontraksi ekonomi menjadi minus pada tahun 2020 merupakan dampak dari pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia.
Secara tahunan, ekonomi Indonesia mengalami minus 2,19 persen pada kuartal ke-4 2020 yang menunjukkan negara masih dalam zona resesi
Sedangkan secara kuartalan, ekonomi Indonesia pada kuartal tersebut mengalami minus 0,42 persen.
Dengan demikian selama tiga kuartal sejak kuartal ke-2, berturut-turut ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan di bawah nol, masing-masing minus 5,32 persen (kuartal ke-2), minus 3,49 persen (kuartal ke-3), dan 2,19 persen (kuartal ke-4).
Sepanjang 2019, ekonomi Indonesia masih tumbuh positif sebesar 5,02 persen secara tahunan.
Penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal keempat adalah belanja pemerintah yang masih tumbuh 1,76 persen.
Sedangkan tiga sektor lainnya negatif, yakni konsumsi rumah tangga (minus 3,61 persen), investasi (minus 6,15 persen), dan ekspor negatif (minus 7,21 persen).
Sama halnya sepanjang 2020, belanja pemerintah menjadi bersumber pertumbuhan ekonomi terkuat, karena masih tumbuh positif 1,9 persen, namun lebih rendah dari tahun 2019 yang tumbuh 3,26 persen.
Sedangkan konsumsi rumah tangga mengalami minus 2,63 persen dari sebelumnya 5,04 persen.
Begitu pula investasi berkontraksi minus 4,95 persen, dari tahun sebelumnya masih positif 4,45 persen.
Ekspor juga mengalami minus 7,7 persen, memburuk dari sebelumnya minus 0,86 persen.