Maria Elisa Hospita
07 Maret 2018•Update: 07 Maret 2018
Sinan Uslu
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas tragedi kemanusiaan di Ghouta Timur, Suriah, lewat telepon, pada Selasa.
Keduanya sepakat bahwa pengiriman bantuan kemanusiaan ke penduduk sipil dan menghentikan bencana kemanusiaan di Ghouta Timur menjadi prioritas utama.
Sesuai dengan keputusan Dewan Keamanan PBB, kerja sama antara Turki, Rusia, dan Iran dianggap penting untuk memberlakukan gencatan senjata di Ghouta Timur.
Menurut badan pertahanan sipil Helm Putih, sedikitnya 10 warga tewas akibat serangkaian serangan yang dilancarkan pasukan rezim Bashar al-Assad ke Ghouta Timur, termasuk serangan darat dan udara ke distrik Duma dan Haresta di Ghelet Timur dan wilayah Sakba, Ayn Terma, Arbin, Hammuriye, Beit Sava, Jisrin, Hizze dan Merc.
Lewat pernyataan tertulis, juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan bahwa Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres "prihatin dengan adanya laporan serangan yang terus menerus terjadi di wilayah yang terkepung, yang telah menewaskan lebih dari 100 orang pada 5 Maret".
Dujarric juga mengatakan bahwa konvoi bantuan kemanusiaan yang dioperasikan oleh Palang Merah Arab Suriah dan Komite Internasional Palang Merah terpaksa meninggalkan bantuannya di Douma, Ghouta Timur, karena keselamatannya "terancam".
"Selain itu, sejumlah persediaan medis dan kesehatan yang akan diikutsertakan dalam pengiriman telah dihancurkan oleh pihak berwenang Suriah," tambah dia.
Guterres meminta semua pihak untuk segera membuka dan mengizinkan akses yang aman, khususnya untuk pengiriman bantuan ke Douma, termasuk bantuan medis dan kesehatan, yang rencananya akan dilaksanakan pada 8 Maret, untuk memberikan pertolongan pada ratusan ribu jiwa, dan 70.000 orang yang darurat bantuan, seperti yang telah disepakati sebelumnya oleh pemerintah Suriah.
Data badan pertahanan sipil setempat menunjukkan bahwa selama 19 Februari - 5 Maret, sebanyak 824 warga sipil terbunuh akibat serangan darat dan udara.
Rezim Assad terus-menerus menggencarkan serangan ke Ghouta Timur meskipun gencatan senjata di wilayah tersebut telah disetujui oleh Rusia dan Dewan Keamanan PBB.
Ghouta Timur yang merupakan rumah bagi sekitar 400.000 jiwa menderita di bawah kepungan selama lima tahun terakhir.
Dalam delapan bulan terakhir, pasukan rezim telah meningkatkan kepungan mereka, sehingga akses bantuan makanan dan obat-obatan benar-benar terputus.