Maria Elisa Hospita
19 Maret 2019•Update: 19 Maret 2019
Selen Temizer
ANKARA
Amerika Serikat masih mempertahankan keberadaan 2.000 pasukannya di Suriah setelah sebelumnya mengumumkan akan menarik seluruh pasukannya dari Suriah pada pertengahan Maret.
Lewat sebuah pernyataan yang dirilis pada 19 dan 20 Desember tahun lalu, Presiden AS Donald Trump mendeklarasikan kemenangan AS atas kelompok teroris Daesh.
Dalam deklarasinya, Trump menekankan bahwa satu-satunya alasan kehadiran AS di Suriah adalah untuk mengalahkan Daesh.
Kepala Komando Pusat (CENTCOM) AS Joseph Votel bulan lalu mengatakan penarikan pasukan akan dimulai pada pertengahan Maret.
Menurut sumber-sumber di Suriah, meskipun waktu yang ditetapkan oleh Votel sudah berakhir, AS tak kunjung mengurangi pasukannya. Sebaliknya, sepanjang Februari, 300 truk dikerahkan ke daerah-daerah yang diduduki oleh teroris YPG/PKK di Suriah.
Pada 4 Februari, AS mengirimkan sekitar 150 truk kendaraan lapis baja dan peralatan militer ke markas milik teroris YPG / PKK di desa Harab Isk dan Sarrin.
Kemudian, pada 22 Februari, juru bicara Pentagon Sean Robertson mengumumkan bahwa ratusan pasukan AS - yang termasuk dalam pasukan multinasional - akan tetap ditempatkan di timur laut Suriah.
Dukungan ke teroris YPG/PKK
Bulan lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan Washington akan terus memerangi Daesh dan akan bekerja sama dengan pasukan lokal yang merujuk pada YPG/PKK.
Sementara itu, Robertson mengatakan Pasukan Demokratik Suriah (SDG) telah menjadi mitra yang efektif dan terpercaya dalam perang anti-Daesh.
SDG terdiri dari pejuang Kurdi dan Arab yang memerangi Daesh. Sementara YPG adalah sayap militer PYD, yang merupakan afiliasi organisasi teroris PKK di Suriah.
Menurut Robertson, senjata yang dipasok ke SDG jumlahnya terbatas. Oleh karena itu, AS akan terus mendukung SDG.
Pada 12 Maret, Pentagon mengumumkan dana USD300 juta dari anggaran pertahanannya untuk tahun fiskal 2020 akan dialokasikan ke YPG / PKK, sementara USD250 juta akan diberikan ke negara-negara yang berbatasan dengan Suriah untuk memastikan keamanan perbatasan dalam perang melawan Daesh.
Selama lebih dari 30 tahun, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS, dan Uni Eropa - melancarkan kampanye teror melawan Turki dan bertanggung jawab atas kematian hampir 40.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. PYD / YPG adalah cabang PKK di Suriah.
*Faruk Zorlu turut berkontribusi dalam laporan ini