Muhammad Latief
JAKARTA
Misi dagang Indonesia ke Maroko dan Tunisia akan memperlebar pasar produk-produk dalam negeri ke Afrika dan Eropa, menurut Kementerian Perdagangan, Senin.
Panser Anoa dan Komodo buatan PT Pindad amunisi diminati oleh Pemerintah Maroko. Selain kedua kendaraan militer tersebut, Maroko juga meminati senjata serta amunisi buatan Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan, Arlinda, mengatakan peralatan militer itu termasuk produk yang ditawarkan dalam misi dagang ke dua negara di Afrika utara tersebut.
Di Maroko, misi dagang berhasil mendapatkan transaksi potensial sebesar USD10,96 juta atau sekitar Rp153,5 miliar.
Produk Indonesia paling diminati di sana adalah kelapa sawit, kopi, minyak esensial, suku cadang kendaraan, rempah-rempah, ban kendaraan, dan fashion.
“Misi dagang ke Maroko ini diikuti 18 perusahaan dan 35 pengusaha dari berbagai sektor,” ujar Arlinda melalui siaran pers, Senin.
"Transaksi di atas belum termasuk potensi transaksi PT Pindad," kata dia.
Menurut Arlinda, transaksi ini masih akan terus bertambah seiring dengan dicapainya kesepakatan-kesepakatan dagang yang saat ini masih dalam proses negosiasi.
Sebelumnya, lanjut Arlinda, misi dagang ke Tunisia sukses mencatat transaksi potensial sebesar USD2,74 juta atau sekitar Rp37,80 miliar.
"Dengan demikian, total transaksi potensial yang tercatat pada misi dagang ke Tunisia dan Maroko yaitu sebesar USD13,70 juta atau sekitar Rp191,30 miliar,” jelas Arlinda.
Pasar Eropa lewat Afrika
Maroko dan kini diarahkan untuk menjadi pintu masuk (hub) produk Indonesia di wilayah tersebut, sebaliknya Indonesia juga akan menjadi hub bagi produk Maroko ke pasar ASEAN.
Tunisia telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement) dengan Uni Eropa sejak 2008, sehingga tarif bea masuk dari Tunisia ke Eropa menjadi 0 persen. Hal ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk mengekspor produknya ke Eropa melalui Tunisia, sehingga membuat produk Indonesia menjadi semakin lebih kompetitif.
Sementara, Tunisia dapat memanfaatkan potensi Indonesia sebagai pintu gerbang menuju pasar yang lebih luas, khususnya ASEAN.
Untuk mendorong hal tersebut, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan Indonesia memulai Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA) dengan Tunisia untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara.
PTA dianggap paling cocok untuk meningkatkan perdagangan kedua negara karena perjanjian ini akan mengurangi hambatan tarif sehingga dapat mendorong peningkatan hubungan perdagangan.
Menurut Menteri Enggar, Presiden Joko Widodo memberi perhatian khusus kepada benua Afrika, termasuk wilayah Maghribi yang selama ini belum digarap secara maksimal.
Selama ini, tarif bea masuk produk Indonesia ke Tunisa masih relatif tinggi, padahal produk-produk Indonesia cukup kompetitif di pasar Tunisia. Rata-rata tarif bea masuk Tunisia sebesar 9,3 persen sedangkan Indonesia adalah 5,3 persen.
“Diharapkan perundingan PTA dapat segera diselesaikan tahun ini agar dapat segera dimanfaatkan oleh para pelaku usaha kedua negara,” jelas Menteri Enggar.
Menurut Menteri Enggar, cakupan pos tarif PTA yang akan dirundingkan tidak perlu terlalu banyak, cukup yang penting bagi Indonesia dan Tunisia, sehingga dampaknya akan lebih cepat terasa saat diimplementasikan.
Total perdagangan Indonesia dengan benua Afrika pada 2017 mencapai USD8,85 miliar. Dari jumlah tersebut, tercatat ekspor nonmigas Indonesia ke Afrika sebesar USD4,86 miliar atau meningkat dibandingkan 2016 sebesar USD4,17 miliar.
Sementara itu, impor nonmigas Indonesia dari Afrika sebesar USD1,36 miliar atau meningkat dibandingkan tahun 2016 yang tercatat sebesar USD925 juta.
Produk-produk ekspor utama Indonesia ke Afrika yaitu minyak kelapa sawit, kertas, mesin, kendaraan bermotor, karet, serta makanan dan minuman. Sedangkan impor Indonesia dari Afrika yaitu minyak dan gas, kapas, pulp, serta besi dan baja.
news_share_descriptionsubscription_contact

