Nıcky Aulıa Wıdadıo
30 Januari 2020•Update: 30 Januari 2020
JAKARTA
Pemerintah Indonesia menyiapkan sejumlah skenario untuk mengevakuasi warga negara Indonesia yang ada di Provinsi Hubei, China.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan skenario pertama adalah mengeluarkan mereka dari Provinsi Hubei ketika status wilayah tersebut sudah tidak lagi diisolasi.
“Kalau ini terjadi, yang dievakuasi adalah sehat. Kita siapkan prosedur biasa melalui thermal scan, diberi health alert card, kontak dengan siapa, masa inkubasi terlewatkan,” kata Anung di Jakarta, Kamis.
Opsi kedua ialah memulangkan WNI dengan pesawat setelah mendapat izin dari otoritas China, lalu mengkarantina mereka. Anung menuturkan lokasi karantina masih belum bisa dipastikan.
Ada dua kategori pemantauan terhadap mereka, yakni orang yang dalam pemantauan (people under observation) dan suspect.
Orang yang masuk pemantauan adalah yang baru pulang dari China namun dalam kondisi sehat dan tidak menunjukkan gejala sakit, sedangkan suspect menunjukkan gejala.
“People under observation kita lihat dalam satu sampai dua malam di satu tempat, kemudian boleh pulang ke rumah, tapi tetap dalam pemantauan,” tutur dia.
Sedangkan orang yang masuk kategori suspect akan diawasi secara intensif di kamar isolasi.
Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) Cabang Wuhan mengungkapkan jumlah WNI yang ada di Provinsi Hubei bertambah menjadi 245 orang per hari ini.
Sebelumnya tercatat mahasiswa Indonesia di Wuhan sebanyak 244 orang.
Ketua PPIT Wuhan Nur Musyafak mengatakan selain di Wuhan, mereka tersebar di Xianning, Huangshi, Jingzhou, Enshi, Yichang dan Songzi.
“Mereka dalam keadaan sehat dan tidak terjangkit virus corona baru,” ujar Nur, dalam keterangannya, Kamis.