İqbal Musyaffa
06 Desember 2017•Update: 07 Desember 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia menerbitkan obligasi negara pada akhir tahun ini untuk menjamin ketersediaan anggaran pada awal 2018 mendatang, kata Kementerian Keuangan RI.
Menurut situs resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, obligasi tersebut berupa surat utang negara (SUN) berdenominasi dolar AS atau global bond sebesar USD4 miliar atau Rp 54 triliun dan dilakukan dalam kerangka pre-funding.
Pre-funing merupakan kebijakan penarikan utang yang dilakukan tahun ini untuk menutup anggaran tahun berikutnya.
DJPPR Kementerian Keuangan menyebut penerbitan global bond tersebut terdiri dari tiga seri, yaitu seri RI0123 dengan tenor lima tahun sebesar USD1 miliar, seri RI0128 dengan tenor sepuluh tahun sebesar USD1,25 miliar, dan seri RI0148 dengan tenor 30 tahun sebesar USD 1,75 miliar.
Perkiraan imbal hasil (yield) SUN untuk tenor lima tahun sebesar 3 persen, tenor sepuluh tahun 3,55 persen, dan tenor 30 tahun sebesar 4,4 persen.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pre-funding kali ini memiliki volume dan harga yang baik. Dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah dari suku bunga AS, Menteri Sri berkata hal tersebut mencerminkan bahwa struktur APBN Indonesia kuat.
“Dengan begitu mereka [investor] memiliki kepercayaan untuk bisa membeli bond Indonesia," ujar Menteri Sri, Rabu.
Dia juga mengatakan bahwa pre-funding ini membuat aliran uang atau cashflow pada bulan Januari 2018 bisa terjaga dengan baik.
Selain itu, penerbitan ini juga sekaligus dalam rangka memanfaatkan momentum sebelum adanya kenaikan suku bunga acuan The Fed dan untuk "mendapatkan peringkat investment grade dari tiga lembaga pemeringkat internasional utama".