Dwi Nur Arry Andhika Muchtar
23 Desember 2018•Update: 24 Desember 2018
TEHERAN
Kementerian Luar Negeri Iran pada Sabtu mengatakan kehadiran pasukan militer AS di Suriah adalah sebuah "kesalahan" dan "sumber masalah" di kawasan.
"Kehadiran pasukan AS di Suriah adalah sebuah kesalahan, irasional, menimbulkan ketegangan, meningkatkan instabilitas, dan rasa tidak aman di kawasan," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qassemi dalam pernyataan yang dikutip oleh kantor berita IRNA.
"Perkembangan kawasan selama beberapa dekade terakhir dan hari ini menunjukkan keberadaan unsur asing dengan berbagai dalih tidak membuahkan hasil apa pun kecuali ketegangan, rasa tidak aman, dan meningkatkan perselisihan," kata dia.
Rabu lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penarikan pasukan AS di Suriah dengan alasan telah berhasil mengalahkan Daesh di Suriah.
AS memulai serangan udaranya di Suriah pada 2014 dan melawan Daesh bersama negara koalisi satu tahun setelahnya.
Laporan menyebutkan pasukan AS akan meninggalkan Suriah dalam rentang waktu 60 hingga 100 hari.
Iran dan kelompok Syiah Hizbullah adalah sekutu kuat rezim Bashar al-Assad, kekuatan yang melawan kelompok oposisi dalam perang yang dimulai sejak 2011.
Sejak itu, ratusan ribu orang tewas terbunuh dan jutaan lainnya mengungsi karena konflik.