Rhany Chairunissa Rufinaldo
05 Mei 2020•Update: 05 Mei 2020
Bekir Aydogan
ANKARA
Kelompok Krisis Internasional mengatakan pendukung panglima perang Libya Khalifa Haftar harus menekannya untuk mempertimbangkan kembali keputusan untuk menggantikan mediasi yang didukung PBB di Libya dengan peta jalan dan pemerintahan politik baru.
Lembaga riset kebijakan yang berbasis di Brussels itu mengevaluasi efek dari pernyataan politik Haftar tanggal 27 April dengan analisis berjudul 'Menafsirkan Langkah Haftar di Libya.'
“Untuk kritik Haftar terhadap Libya, deklarasi politiknya 27 April hanya memperkuat anggapan bahwa dia tidak bisa menjadi mitra dalam negosiasi. Dengan memberi mereka alasan lain untuk terus memeranginya, risiko terbaru Haftar semakin memperparah perang tragis ini,” kata lembaga itu dalam analisisnya.
"Sekutu-sekutunya harus dengan cepat dan paksa mendesaknya mempertimbangkan kembali dan berkomitmen untuk proses yang dipimpin PBB."
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat persetujuan PBB dan internasional.
Haftar secara sepihak mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa Libya pada 27 April, mengklaim bahwa dia menerima mandat rakyat Libya dan menyebut perjanjian yang ditandatangani antara pihak-pihak yang bertikai di Libya di bawah naungan PBB sudah tidak berlaku lagi.
Namun upaya kudeta Haftar dikecam oleh aktor internasional dan sekutu regional.