Umar İdris
19 Desember 2019•Update: 19 Desember 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Berbicara kepada wartawan di gedung Capitol tak lama setelah pemungutan suara, Ketua Kongres Nancy Pelosi mengatakan keputusan kongres pada Rabu adalah "hari yang baik untuk Konstitusi Amerika Serikat; dan menyedihkan bagi Amerika karena aktivitas nekat presiden."
Gedung Putih segera mengeluarkan pernyataan panjang setelah pemungutan suara pasal pertama. Trump menyebut proses pemakzulan itu "palsu", "salah satu episode politik paling memalukan dalam sejarah Bangsa kita."
"Tanpa menerima suara tunggal dari Partai Republik, dan tanpa memberikan bukti kesalahan, Demokrat mendorong pasal-pasal pemalsuan yang tidak sah terhadap Presiden melalui Dewan Perwakilan Rakyat," kata jurubicara Stephanie Grisham.
"Demokrat telah memilih untuk melanjutkan proses itu, terlepas dari kenyataan bahwa Presiden sama sekali tidak melakukan kesalahan."
Trump menuduh Demokrat melakukan "pemalsuan", ketika berbicara kepada para pendukungnya di Michigan, dan mengatakan bahwa sekarang "siapa pun yang menjadi presiden, mereka dapat melakukan panggilan telepon, dan mereka dimakzulkan."
"Demokrat di Kongres menyerahkan suara mayoritas, martabat, reputasi mereka, mereka terlihat seperti sekelompok orang bodoh," katanya.
Presiden Donald Trump pada hari Rabu menjadi kepala eksekutif ketiga dalam sejarah Amerika Serikat (AS) yang akan dimakzulkan setelah dilakukan pemungutan suara di Dewan Perwakilan Rakyat AS.
Dua pasal pemakzulan - penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi Kongres - sekarang akan dikirim ke Senat, tempat Trump akan diadili.
Hanya dua suara dari partai Demokrat yang menyeberang dari garis partai dan bergabung dengan suara partai Republik, dalam pemungutan suara pasal penyalahgunaan kekuasaan yang hasilnya adalah 230-197.
Dalam pemungutan suara pasal kedua, tiga suara partai Demokrat berdiri di oposisi dengan suara 229-198.
Anggota Kongres Justin Amash, mantan anggota parlemen dari Partai Republik yang sekarang menjadi satu-satunya suara independen, memberikan suara dengan mayoritas suara partai Demokrat pada kedua artikel, sementara anggota Kongres Demokrat yang menjadi kandidat presiden AS dari partai Demokrat, Tulsi Gabbard, memilih 'present' atau abstain.
Penyalahgunaan artikel kekuasaan merujuk pada beberapa permintaan Trump kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk mengumumkan penyelidikan calon terkuat presiden AS dari Demokrat yang juga mantan Wakil Presiden Joe Biden dan putranya, Hunter, serta klaim bahwa Ukraina, bukan Rusia, yang ikut campur dalam pemilihan 2016.
Penghalangan pada Kongres merujuk pada penolakan Trump untuk bekerja sama dengan Kongres AS dan desakan Trump kepada pejabat tinggi negara untuk melakukan hal yang sama kepada Kongres AS.
Setelah kedua artikel itu disetujui di DPR yang ada di bawah Demokrat, kesepakatan tersebut sekarang diserahkan ke Senat untuk diadili. Di Senat, Partai Republik diharapkan untuk membebaskan presiden Trump dari kesalahannya.
Di Senat yang dikuasai Partai Republik, perlu suara mayoritas sebanyak dua pertiga untuk mendepak Trump dari jabatannya, skenario yang sangat tidak mungkin didukung oleh partai pendukung Trump.