Umar Idris
19 Maret 2021•Update: 19 Maret 2021
Jumlah korban tewas di Myanmar akibat kekerasan yang dilakukan junta militer dalam 24 jam terakhir bertambah 7 orang, mengutip data organisasi HAM di Myanmar.
Total korban tewas dalam protes menentang junta militer di Myanmar hingga Kamis malam sebanyak 224 orang, bertambah dari sebelumnya 217 orang, seperti dilansir oleh Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik atau The Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), Myanmar.
"Jumlah korban ini terdokumentasi dan terverifikasi oleh AAPP, dan jumlah korban sebenarnya lebih banyak dari angka ini," demikian pernyataan tertulis AAPP, pada Kamis malam.
Menurut AAPP, teror junta militer terhadap warga terus berlanjut pada malam hari, dengan aksi pembunuhan, penyiksaan, dan perusahaan properti publik dan pribadi.
Media Myanmar, the Irrawaddy, pada Kamis, melaporkan seorang pegawai sipil, Ko Tun Htet Aung, tewas karena luka-luka yang diderita akibat mengalami penyiksaan dan pemukulan brutal oleh tentara dan polisi saat ditahan di Monywa di Wilayah Sagaing.
Ko Tun Htet Aung, seorang pekerja kehutanan berusia 24 tahun, bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil (CDM) Myanmar memprotes rezim militer.
Dia meninggal karena pendarahan internal di kepalanya pada pukul 3:10 pada hari Kamis di rumah sakit Mandalay, kurang dari dua belas jam setelah dia dibebaskan dari tahanan.
AAPP melaporkan, hingga Kamis malam, sebanyak 2258 orang telah ditangkap oleh junta dan didakwa atau dijatuhi hukuman oleh junta, sebanyak 1938 orang di antaranya masih ditahan atau dalam proses penuntutan.