Rhany Chairunissa Rufinaldo
10 Juli 2020•Update: 10 Juli 2020
ISTANBUL
Libya pada Kamis menegaskan kembali komitmennya untuk mencapai perdamaian dan menekankan kepada Rusia bagaimana panglima pemberontak Khalifa Haftar bahkan menolak proposal perdamaian Moskow.
Dalam pernyataan pers yang membalas komentar Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Kementerian Luar Negeri Libya menegaskan bahwa Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui secara internasional selalu berusaha untuk mencapai solusi damai untuk krisis negara itu.
Pada Rabu, Lavrov mengklaim bahwa pemerintah Libya tidak mau menandatangani perjanjian gencatan senjata dan mencari solusi militer.
"Kami mengingatkan menteri luar negeri Rusia bahwa prakarsa Rusia-Turki ditandatangani oleh GNA di Moskow sementara Haftar menolak menandatangani dan pergi dari Moskow, menempatkan Rusia dalam posisi yang memalukan," kata pernyataan itu.
Pada 14 Januari, Haftar menolak menandatangani proposal Rusia-Turki untuk gencatan senjata dan melanjutkan upaya ofensif yang kemudian gagal merebut Ibu Kota Tripoli.
Rusia adalah salah satu negara yang mendukung Haftar melawan pemerintah Libya yang sah.
Pernyataan itu menegaskan bahwa GNA juga menyambut baik upaya proses perdamaian Berlin di Libya.
Sejak April 2019, pasukan pemberontak Haftar telah melancarkan serangan terhadap ibu kota Libya, Tripoli, dan wilayah barat laut dan mengakibatkan lebih dari 1.000 kematian, termasuk perempuan dan anak-anak.
Namun, pemerintah Libya baru-baru ini meraih kemenangan signifikan dengan mendorong pasukan Haftar keluar dari Tripoli dan Kota Tarhuna yang strategis.
* Ahmed Asmar berkontribusi pada berita ini dari Ankara