Astudestra Ajengrastrı
10 Juni 2018•Update: 11 Juni 2018
Ali Aweida
MAARIB, Yaman
Sebanyak 27 wartawan tewas terbunuh sejak perang sipil pecah di Yaman pada 2014, ujar LSM Sindikat Jurnalis Yaman pada Sabtu.
"Kebebasan pers [di Yaman] mengalami kondisi yang sulit dan telah menjadi korban perang sistematis sejak 2014," ujar Sindikat dalam pernyataannya, tepat pada perayaan Hari Pers Yaman yang jatuh pada 9 Juni.
Menurut pernyataan tersebut, total 27 jurnalis "telah kehilangan nyawa mereka ketika memenuhi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi".
Sindikat juga mengatakan kantor media-media di Yaman dijarah, jurnalis dan fotografer dikejar-kejar, serta ratusan media berita online diblokir.
LSM tersebut menyerukan dibebaskannya 12 jurnalis yang saat ini masih ditawan oleh pemberontak Houthi dan satu jurnalis lain yang disandera oleh militan al-Qaeda.
"Mereka hidup dalam kondisi sulit dan menjadi subyek penyiksaan brutal," terang pernyataan tersebut, kembali menyerukan kepada pihak oposisi di Yaman untuk "menciptakan suasana yang layak dan aman untuk wartawan dan menghormati hak-hak masyarakat untuk menerima informasi".
Yaman telah terkoyak oleh perang sejak 2014, ketika pemberontak Houthi Syiah menduduki sebagian besar negara, termasuk Ibu Kota Sanaa.
Konflik ini memanas pada 2015 ketika Arab Saudi bersama sekutu-sekutu Arab Sunni-nya -- yang menuduh Houthi berlaku sebagai proksi Iran -- meluncurkan serangan udara besar-besaran di Yaman untuk merebut kembali daerah yang dikuasai Houthi.
Perang ini menghancurkan infrastruktur dasar di negara ini, termasuk sistem air dan sanitasi, mendorong PBB untuk menjabarkan situasi di sana sebagai "salah satu bencana kemanusiaan terbesar di era modern".