Rhany Chairunissa Rufinaldo
21 Februari 2019•Update: 22 Februari 2019
Serife Cetin
BRUSSELS
Migran gelap yang transit di Eropa takut untuk meminta suaka karena kebijakan yang represif dan mengintimidasi terhadap mereka, menurut sebuah laporan baru dari sebuah LSM, Rabu.
Medecines Sans Frontieres (MSF) - juga dikenal sebagai Dokter Lintas Batas - dan Koordinasi dan Inisiatif LSM Belgia untuk Pengungsi dan Orang Asing (CIRE) mengatakan dalam laporan bersama bahwa para migran yang sedang transit tidak memiliki keberanian untuk meminta suaka dan perlindungan di Belgia.
"Kondisi yang tidak manusiawi di kamp-kamp pengungsi di perbatasan Eropa, Peraturan Dublin, tindakan represif polisi dan kampanye protes yang dilakukan di Belgia dan tempat lain di Eropa melemahkan kepercayaan para migran pada otoritas publik dan memperburuk kerentanan mereka," kata laporan itu.
Regulasi Dublin di Uni Eropa meminta para pencari suaka untuk diproses di negara pertama mereka tiba.
Aturan ini menempatkan tanggung jawab untuk menangani permintaan suaka kepada negara-negara perbatasan Eropa, tempat yang paling sering digunakan para migran untuk memasuki UE.
Laporan itu menambahkan bahwa para migran merasa terasingkan di Eropa dan kebijakan saat ini merampas hak-hak dasar mereka.