Rhany Chairunissa Rufinaldo
25 Januari 2019•Update: 25 Januari 2019
Lokman Ilhan, Muhammed Macid dan Safvan Allahverdi
CARACAS
Presiden Venezuela pada Kamis menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Turki, Rusia dan China atas dukungan mereka setelah pemimpin oposisi Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara.
"Saya berterima kasih kepada Rusia, China, Turki dan negara-negara lain serta orang-orang di dunia atas dukungan kuat mereka terhadap pemerintah Venezuela yang didirikan secara sah," kata Nicolas Maduro melalui Twitter.
"Venezuela tidak sendirian!" tambahnya.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyuarakan solidaritas dengan Maduro pada Kamis pagi, sehari setelah Amerika Serikat mengakui Guaido sebagai pemimpin sementara Venezuela.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Venezuela adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
China juga mengatakan pihaknya mendukung upaya pemerintah Venezuela untuk mengamankan kedaulatan nasionalnya.
Sementara itu, kelompok perlawanan Palestina Hamas dalam sebuah pernyataan tertulis mengutuk upaya kudeta dan intervensi terbuka AS dalam urusan internal Venezuela.
Hamas juga memuji warga Venezuela karena menentang upaya kudeta dan mendukung pemerintah, yang tanpa syarat mendukung masalah Palestina.
Anggota kongres Muslim AS Ihan Omar juga mengutuk upaya kudeta tersebut.
“Kudeta yang didukung AS di Venezuela bukanlah solusi untuk masalah mengerikan yang mereka hadapi. Upaya Trump untuk menggunakan oposisi sayap kanan hanya akan menghasut kekerasan dan lebih jauh mengganggu stabilitas kawasan," tegas Omar di di halaman Twitter-nya.
"Kita harus mendukung upaya Meksiko, Uruguay & Vatikan untuk memfasilitasi dialog damai,” tambah dia.
Semakin banyak negara menyatakan dukungannya kepada Guaido, kepala Majelis Nasional, yang menyatakan dirinya sebagai presiden pada Rabu berdasarkan Pasal 333 dan 350 Konstitusi Venezuela di tengah protes massa anti-pemerintah atas krisis ekonomi negara itu.
Deklarasi Guaido dengan segera diakui oleh AS, Kanada dan sejumlah negara Amerika Latin.
Maduro pertama kali menjabat pada 2013 setelah pendahulunya Hugo Chavez wafat.
Setelah dilantik pada awal bulan ini, dia akan memimpin kursi pemerintahan untuk masa jabatan enam tahun hingga 2025.
Selama masa jabatannya, AS kerap mengkritik Maduro dan menunjukkan dukungan kepada Majelis Nasional sebagai sisa demokrasi terakhir.