MOSKOW
Para menteri luar negeri Turki dan Rusia mengadakan pertemuan bilateral di sela-sela pertemuan tingkat menteri G20 di Bali, Indonesia, kata Kementerian Luar Negeri Rusia pada Kamis.
Menlu Turki Mevlut Cavusoglu dan Menlu Rusia Sergey Lavrov melakukan diskusi menyeluruh tentang isu internasional dan regional dengan penekanan khusus pada situasi di Ukraina, kata pernyataan kementerian Rusia itu.
Rusia meluncurkan pada Februari apa yang disebutnya "operasi militer khusus" untuk "demiliterisasi" dan "denazifikasi" Ukraina.
Barat memberikan reaksi dengan menjatuhkan sanksi keras terhadap Moskow, dan memberikan dukungan ekonomi dan militer kepada Ukraina.
Perang juga telah menciptakan krisis pangan global karena blokade pelabuhan Ukraina di Laut Hitam mencekik rantai pasokan makanan global.
"Penting menekankan koordinasi lebih lanjut untuk memastikan keselamatan warga sipil dan operator ekonomi di Ukraina, termasuk yang asing," kata kemlu Rusia.
“Para menteri menyatakan kepuasannya dengan dinamika dialog politik antara negara-negara kita pada tingkat tertinggi dan tinggi pada 2022. Mereka menegaskan kesiapan mereka untuk melanjutkan kontak erat antara otoritas Rusia dan Turki, termasuk dalam format pertemuan tatap muka," kata pernyataan itu.
Cavusoglu dalam sebuah cuitan mengatakan dia berdiskusi dengan Lavrov "soal perang di Ukraina, ketahanan pangan & Suriah."
Bertemu dengan Menlu China Wang Yi
Dalam pernyataan terpisah, kemlu Rusia mengatakan Lavrov juga bertemu dengan Menlu China Wang Yi dan keduanya "memuji keadaan kerja sama saat ini antara kedua negara, menyatakan minat bersama untuk memperdalam hubungan lebih lanjut."
"Lavrov memberi tahu sejawatnya dari China tentang pelaksanaan tugas utama operasi militer khusus," kata pernyataan itu, menambahkan bahwa para menteri menekankan pada tidak dapat diterimanya penerapan sanksi "tidak sah" dan "sepihak".
"Pertukaran pandangan rahasia diadakan pada isu-isu regional dan internasional topikal dengan penekanan pada situasi di kawasan Asia-Pasifik, termasuk dalam upaya berkelanjutan untuk menciptakan struktur blok sempit di kawasan itu," lanjut pernyataan itu.
Kedua menteri juga menekankan pentingnya pengembangan kerjasama dalam format BRICS, SCO dan RIC.
China telah menyerukan diakhirinya perang, tetapi tidak mengutuk Rusia. Negara itu juga mengecam sanksi sepihak Barat terhadap Moskow.