Hakan Copur, Muhammed Bilal Kenasari
22 Desember 2017•Update: 23 Desember 2017
Hakan Copur, Muhammed Bilal Kenasari
NEW YORK
Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki, Mevlut Cavusoglu menyambut baik penolakan Majelis Umum PBB atas keputusan Amerika Serikat tentang status Yerusalem, Kamis.
Sebanyak 193 anggota Majelis Umum PBB pada Kamis melakukan pemungutan suara untuk resolusi yang menolak keputusan Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember lalu.
Sebanyak 128 anggota mendukung resolusi Yerusalem, sembilan negara menolak sementara 35 lainnya abstain.
“Hari ini, Majelis Umum dengan jelas menolak keputusan AS mengenai Yerusalem. Ada solidaritas untuk Palestina dan status Yerusalem di Majelis Umum," ujar Cavusoglu usai pemungutan suara tersebut.
Dia mengatakan Turki akan terus mendukung Palestina.
“Kami (Turki) akan bekerja lebih keras untuk pengakuan Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya dan dengan perbatasan 1967,” kata dia.
Harapan untuk perdamaian
"Kami akan menunjukkan bahwa etnis dan agama yang berbeda dapat hidup berdampingan dalam perdamaian di Palestina," ujar Cavusoglu.
"Ini adalah parameter utama dan satu-satunya harapan untuk perdamaian yang adil dan abadi di wilayah ini," tambah Cavusoglu.
Cavusoglu mengatakan, Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel melanggar hukum internasional dan resolusi PBB yang relevan.
"Keputusan ini merupakan serangan yang menghina semua nilai universal," ungkap Cavusoglu.
Cavusoglu mengingatkan pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul yang menyatakan Yerusalem Timur dinyatakan sebagai ibu kota Palestina pada 13 Desember lalu.
Dia mengatakan bahwa Yerusalem penting sebagai rumah bagi ketiga agama monoteistik.
“Adalah tanggung jawab seluruh umat manusia untuk mempertahankan status historisnya," ujar Cavusoglu.
Cavusoglu menambahkan, "tidak etis memikirkan suara dan martabat negara anggota bisa diperjualbelikan. Saya tegaskan, Kami tidak akan terintimidasi."
AS ancam potong bantuan
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memotong bantuan ke negara-negara yang mendukung resolusi Yerusalem pada Rabu.
“Biarkan mereka memberikan suara melawan kita," ungkap Trump dalam rapat kabinet.
"Kita akan menghemat banyak, kita tidak peduli, tapi ini tidak seperti biasanya di mana mereka bisa memberikan suara melawan Anda dan kemudian Anda membayar mereka ratusan juta dolar," tambah dia.
"Seorang anggota PBB mengancam semua anggota lainnya. Kami diminta memberikan suara 'tidak' atau menghadapi konsekuensinya,” ujar Menlu Mevlut Cavusoglu kepada negara anggota lainnya sebelum pemungutan suara tersebut.
Cavusoglu mengatakan bahwa memberikan suara yang kebaikan Palestina telah menempatkan Turki pada "sisi kanan sejarah," sama seperti pada tahun 2012 ketika Palestina diberi status sebagai negara pengamat non-anggota di PBB.
"Harapan tulus kami bahwa pemungutan suara ini akan membuka jalan bagi perdamaian dan keadilan yang sangat dibutuhkan di Timur Tengah," kata dia.
"Turki tidak akan membiarkan Al-Quds jatuh, rakyat Palestina tidak akan pernah ditinggalkan sendirian, dunia lebih besar dari lima," tambah Cavusoglu.