Rhany Chairunissa Rufinaldo
14 April 2020•Update: 14 April 2020
Gulsen Topcu, Enes Canli, Aydogan Kalabalik, Halime Afra Aksoy
ANKARA
Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang diakui PBB pada Senin malam mengumumkan bahwa mereka telah menguasai kembali sekitar 2.000 mil persegi tanah di barat Ibu Kota Tripoli dari milisi yang setia kepada panglima perang Khalifa Haftar.
Dalam sebuah pernyataan, juru bicara militer GNA Mohammed Qanunu mengatakan pasukan telah merebut kembali 1.860 mil persegi tanah setelah pertempuran sengit dengan pasukan Haftar.
Qanunu mengatakan gudang senjata, sejumlah besar amunisi dan peralatan militer milik Mesir dan Uni Emirat Arab juga disita.
Dia mengatakan sebagai bagian dari Operasi Badai Perdamaian, pasukan GNA juga menyita enam panser, 10 tank, ratusan senjata berat dan ringan serta amunisi dan roket Grad milik UEA setelah merebut kembali kota-kota di negara itu.
Perdana Menteri Libya Fayez al-Sarraj mengumumkan bahwa jasad tentara bayaran Haftar yang terbunuh dalam konflik akan dikirim kembali ke negara mereka.
Dia mengatakan mereka telah mengadopsi metode ini untuk menunjukkan kepada negara-negara tersebut apa yang warga mereka lakukan di Libya.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Sudan mengklaim bahwa pasukan apa pun yang berafiliasi dengan tentara Sudan tidak terlibat dalam bentrokan di Libya.
GNA terus-menerus diserang oleh pasukan Haftar sejak April lalu, menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Pemerintah Libya meluncurkan "Operasi Badai Perdamaian" pada 26 Maret untuk menangkal serangan.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat persetujuan PBB dan internasional.