Astudestra Ajengrastrı
13 September 2018•Update: 13 September 2018
Merve Aydogan
ANKARA
Banyaknya jumlah orang yang terusir dari rumah mereka mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya di Suriah tahun ini, ujar sebuah komisi PBB pada Rabu.
Dalam laporan sepanjang 24 halaman itu, Komisi PBB Independen Internasional untuk Penyelidikan atas Suriah menggarisbawahi situasi kemunduran HAM di Suriah pada Januari hingga Juni.
"Dalam jangka waktu di bawah enam bulan, saat pasukan pro-Pemerintah berusaha merebut kembali sejumlah wilayah dari kelompok bersenjata dan organisasi teroris, lebih dari satu juta pria, wanita, dan anak-anak Suriah terusir dari rumah mereka dan kini harus hidup dalam keadaan yang menyedihkan," ujar laporan itu.
"Peperangan yang intens terjadi di Aleppo, sebelah utara Homs, Damaskus, Rif Damaskus, Dara, dan Idlib," tulis laporan tersebut, menekankan bahwa pihak-pihak di lapangan gagal melindungi masyarakat sipil.
"Tidak adanya pihak dalam konflik ini yang mau melakukan kewajiban mereka terhadap warga sipil yang harus pindah karena operasi militer yang mereka lakukan adalah hal yang tidak bisa dimaafkan," ujar Ketua Komisi Paulo Pinheiro.
Laporan juga menambahkan, "Kebanyakan bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang, termasuk serangan sembarangan, dengan sengaja menyerang objek yang dilindungi, menggunakan senjata terlarang, penjarahan dan/atau pemindahan paksa, termasuk oleh kelompok bersenjata. ”
"Warga Suriah yang terusir ini menghadapi kesulitan dan tantangan yang nyata untuk penghidupan mereka, termasuk kurangnya akses pada makanan, air, obat-obatan, fasilitas sanitasi dasar, dan akomodasi yang layak," tambah laporan itu.
Laporan yang dibuat oleh komisi yang beranggotakan tiga orang ini lebih jauh memperingatkan skenario serupa yang mengancam Idlib, "bila upaya untuk mencapai kesepakatan gagal".
Laporan ini akan dibacakan pada sesi ke-39 Dewan HAM PBB di Jenewa pada 17 September, menurut komisi.