Vakkas Dogantekin
03 Agustus 2022•Update: 04 Agustus 2022
ANKARA
Pihak-pihak yang bertikai di Yaman telah sepakat memperpanjang gencatan senjata yang dimediasi PBB untuk dua bulan kedepan, terang kantor utusan PBB pada Selasa malam.
Sebuah pernyataan pers oleh Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg memuji pencapaian tersebut dan mendesak semua pihak untuk berjuang demi perdamaian abadi.
"Dalam beberapa minggu mendatang, saya akan mengintensifkan keterlibatan dengan para pihak bertikai untuk memastikan implementasi penuh dari semua kewajiban dalam gencatan senjata. Ini harus mencakup implementasi aturan penerbangan dari tujuan yang disepakati dan Sana'a. Bandara Internasional dan jumlah kapal BBM yang masuk ke Pelabuhan Hudaydah, sebagaimana diatur dalam perjanjian gencatan senjata," katanya.
“Penting juga untuk membuat kemajuan dalam pembukaan jalan di Taiz dan provinsi lainnya untuk memfasilitasi kebebasan pergerakan jutaan wanita, pria dan anak-anak Yaman, dan barang-barang.”
Perpanjangan gencatan senjata disambut oleh pihak-pihak yang bertikai.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga menyambut baik pengumuman perpanjangan gencatan senjata.
Dia mengatakan perjanjian itu menurunkan ketegangan bagi jutaan orang dan menyelamatkan nyawa dalam periode ketenangan terpanjang sejak perang dimulai."
Di bawah gencatan senjata, yang pertama kali dicapai pada 2 April, semua operasi militer dihentikan.
Perjanjian tersebut juga memungkinkan pengoperasian penerbangan komersial dari Bandara Sana'a yang dikuasai pemberontak di ibukota Yaman.
Yaman telah dilanda kekerasan dan ketidakstabilan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi yang bersekutu dengan Iran merebut sebagian besar negara itu, termasuk Sana'a.
Houthi tetap mengendalikan ibu kota serta sebagian besar wilayah meskipun operasi militer Arab Saudi dan sekutunya sejak 2015 bertujuan menggulingkan mereka dan memulihkan pemerintah Yaman.