Shenny Fierdha
27 Agustus 2017•Update: 30 Agustus 2017
Shadi Khan Saif
KABUL, Afganistan
Orang-orang yang selamat dari serangan hari Jumat di masjid Syiah di ibukota Kabul mengkritik pemerintah yang tidak banyak melindungi mereka seiring meningkatnya jumlah korban jiwa menjadi 28 orang pada Sabtu.
Ratusan orang berpartisipasi dalam upacara pemakaman di kota yang kembali mengalami serangan yang diklaim oleh kelompok teroris Daesh. Kelompok tersebut tampaknya menyasar komunitas Syiah.
"Teroris tidak memiliki belas kasihan, mereka membunuh banyak orang dengan belati ketika kehabisan peluru.
"Pasukan keamanan terlambat membasmi mereka. Mereka [para penyerang] seharusnya dibasmi sebelum mereka menciptakan kekacauan," kata Mochammad Hashim, penyintas serangan tersebut, kepada Anadolu Agency.
Ratusan umat Muslim sedang berada di dalam Masjid Imam Zamin di kawasan Kher Khana yang terletak di kota tersebut untuk menunaikan salat Jumat ketika serangan terjadi.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Ismael Kawosi mengatakan bahwa kebanyakan korban merupakan warga sipil.
Kementerian Kesehatan Umum mengonfirmasi bahwa korban jiwa mencapai 28 orang sementara 40 lainnya luka-luka. Di antara korban meninggal ialah 3 polisi, 7 wanita, dan 1 anak.
Selain di kota Kabul, protes terhadap serangan itu juga diadakan di kota Mazar-e-Sharif dan Pul-e-Khumri. Pedemo mengkritik pemerintah yang "tidak efektif" dalam mencegah terjadinya serangan teroris.
Hashim Azimi, anggota majelis provinsi di provinsi Balkh yang mengorganisir aksi protes di Mazar-e-Sharif mengatakan kepada radio lokal, Azadi Radio Pashto Service, bahwa kelompok militan menebar benih sektarian melalui serangan seperti itu.
"Para militan Daesh ingin menciptakan kebencian dan perpecahan di antara warga Afghanistan seperti yang mereka lakukan di Irak," kata Azimi, seperti dikutip dari radio tersebut.
Daesh mengaku bertanggungjawab atas serangan hari Jumat, mengklaim bahwa 2 orang pelaku bom bunuh diri turut terlibat dalam peristiwa itu.
Taliban telah menolak keterlibatannya dalam insiden keenam yang terjadi tahun ini.
Menurut Misi Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afghanistan (UN Assistance Mission in Afghanistan), 4 serangan sebelumnya terjadi di provinsi Herat barat yang berbatasan dengan Iran sementara 2 serangan lainnya terjadi di Kabul. Daesh pun telah mengaku bertanggung jawab atas 2 serangan tersebut.
Organisasi hak asasi manusia Human Rights Watch mengatakan bahwa serangan yang baru terjadi ini merupakan kejahatan perang.
"Serangan di rumah ibadah saat sedang beribadah merupakan kejahatan mengerikan yang bertujuan untuk membunuh semakin banyak warga sipil," kata Patricia Gossman, peneliti senior isu Afganistan di Human Rights Watch.
Presiden Mohammad Ashraf Ghani mengutuk aksi "tidak berperikemanusiaan dan non-Islami" ini, dan mengatakan bahwa teroris tidak bisa memecah-belah bangsa Afganistan dengan tindakan demikian.