Astudestra Ajengrastrı
28 Mei 2018•Update: 28 Mei 2018
Ahmed Fawzi Mostefai
BOGOTA, Kolombia
Kandidat calon presiden dari Partai Centro Democratico, Ivan Duque, akan bertarung dengan Gustavo Petro, kandidat calon presiden dari gerakan Colombia Humana, pada pemilihan umum Kolombia putaran kedua yang akan dilangsungkan pada Juni 2018.
Keduanya mengeruk suara terbanyak dalam pemilihan umum putaran pertama yang dilaksanakan Minggu.
Duque, yang berasal dari partai yang diketuai oleh mantan presiden Alvaro Uribe, meraup suara terbanyak dengan perolehan 39,11 persen suara atau 7.539.930 surat suara. Sementara Petro meraih 25,10 persen suara atau sebanyak 4.838.639 suara.
Kandidat lain, Sergio Fajardo dan German Vargas Lleras masing-masing memperoleh 4.579.684 dan 1.400.648 suara.
Ivan Duque, kandidat presiden peraih suara terbanyak, dianggap sebagai penerus mantan presiden Kolombia Alvaro Uribe. Pada 2014, Uribe merupakan pendukung utama saat Duque memenangi kursi senator. Jabatan ini merupakan satu-satunya jabatan politik terpenting yang pernah diduduki Duque.
Selama kampanye, Duque selalu menekankan “tidak akan membiarkan Kolombia menjadi seperti Venezuela”, negara yang saat ini berada dalam krisis ekonomi parah, dengan tingkat inflasi 2.616 persen dan jumlah imigran yang terus bertambah.
Duque juga menjanjikan percepatan perkembangan ekonomi dengan mempromosikan sektor swasta dan menyederhanakan sistem perpajakan, dengan pengurangan pajak pemerintah dan pajak pendapatan hingga 50 persen.
Duque juga menyatakan tak mendukung perjanjian perdamaian yang ditandatangani oleh Presiden Juan Manuel Santos dengan gerilyawan FARC pada November 2016, berkata bahwa anggota kelompok teroris harus dihukum.
Gustavo Petro, di sisi lain, adalah simbol revolusi di Kolombia. Di masa mudanya, Petro mengikuti berbagai gerakan revolusi melawan pemerintah, dan kembali ke kehidupan sipil setelah menerima amnesti. Setelah itu, Petro terpilih sebagai anggota kongres, di mana dia banyak berjasa membuka proses peradilan, salah satunya pada kasus politisi yang terkait dengan kelompok paramiliter sayap kanan.
Petro juga tercatat sebagai wali kota Bogota yang paling membela hak-hak masyarakatnya akan air bersih. Banyak dari keputusan politiknya dianggap membela masyarakat miskin.
Petro lahir pada 1960 di Cienaga de Oro, sebelah utara Karibia. Petro adalah mantan gerilyawan gerakan April 19 (M-19), juga merupakan tokoh penting dalam proses perdamaian gerilyawan dengan pemerintah. Petro empat kali duduk sebagai anggota kongres dan menjadi wali kota ibu kota Bogota pada 2012-2015.
Dalam kampanyenya, Petro menjanjikan diversifikasi ekonomi, industrialisasi sektor pertanian, perlindungan lingkungan dan menutup pelanggaran sosialekonomi negara tersebut.