Chandni
05 Maret 2018•Update: 06 Maret 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Rusia harus membujuk rezim Bashar al-Assad di Suriah agar segera menghentikan kekerasan dan mulai melindungi warga sipil, desak pemimpin Inggris dan AS pada Minggu.
Menurut pernyataan mereka, Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Presiden AS Donald Trump merundingkan situasi terbaru di Suriah melalui perbincangan telepon.
"Mereka membahas Suriah dan situasi kemanusiaan yang memburuk di Ghouta Timur," bunyi pernyataan itu.
"Keduanya setuju itu menjadi bencana kemanusiaan dan sebagian besar tanggung jawab itu berada di tangan rezim Assad serta Rusia, yang selama ini mendukung rezim," lanjutnya.
May dan Trump juga setuju bahwa "Rusia dan pihak-pihak lain yang dekat dengan rezim Assad harus segera bertindak agar mereka berhenti menyerang dan mulai melindungi warga sipil."
Serangan yang diluncurkan rezim Assad dan pendukung-pendukungnya di Ghouta Timur telah menewaskan lebih dari 700 warga, menurut laporan.
Ghouta Timur, pinggiran kota Damaskus, telah dikepung selama lima tahun terakhir dan akses kemanusiaan ke daerah tersebut, yang merupakan rumah bagi sekitar 400.000 orang, benar-benar terputus.
Dalam delapan bulan terakhir, kekuatan rezim Assad telah mengintensifkan pengepungan Ghouta Timur mereka, sehingga hampir tidak mungkin bagi makanan atau obat-obatan masuk ke distrik tersebut dan membuat ribuan pasien butuh perawatan.
May juga menyampaikan kekhawatiran Inggris mengenai "rencana Trump terkait tarif baja dan aluminium."
"Aksi multilateral adalah satu-satunya cara bagi semua pihak untuk memecahkan masalah overkapasitas," kata May dalam perbincangan telepon itu.