Emel Öz Gözellik
28 November 2017•Update: 29 November 2017
Emel Öz Gözellik
DHAKA
Pengadilan Tinggi Bangladesh mengabulkan hukuman mati terhadap 139 penjaga perbatasan yang membunuh 74 orang dalam sebuah pemberontakan pada 2009.
Delegasi Pengadilan Tinggi menyatakan korban pembunuhan tersebut termasuk 57 perwira pada 2009.
Pengadilan di Ibu Kota Dhaka mengabulkan keputusan hukuman mati terhadap 139 dari 152 terdakwa yang dijatuhi hukuman mati pada 2013. Beberapa terdakwa lainnya mendapat hukuman penjara seumur hidup, sementara sebagian dari mereka dibebaskan.
Pengacara pembela, Aminul Islam, setelah melihat semua teks keputusan tersebut mengatakan akan memberikan saran kepada kliennya untuk mengajukan banding atau tidak.
Dua bulan setelah Perdana Menteri Sheikh Hasina menjabat di Bangladesh, pada 25-26 Februari 2009, 74 orang termasuk 57 perwira tewas terbunuh dalam sebuah pemberontakan oleh penjaga perbatasan.
Pemberontakan tersebut diprakarsai oleh satu unit Pasukan Senapan Bangladesh yang kebanyakan bertugas sebagai penjaga perbatasan. Mereka memprotes penerapan kenaikan gaji yang tidak sesuai dengan kenaikan gaji para perwira.
Pemberontakan yang dimulai di Dhaka berakhir setelah negosiasi antara pemberontak dengan pemerintah, diakhiri dengan para pemberontak menyerahkan senjata dan membebaskan para tawanan.
Sikap pemerintah yang lebih memilih bernegosiasi dengan pemberontak daripada mengizinkan tentara menyerang markas penjaga perbatasan mendapatkan reaksi keras dari tentara Bangladesh.