Magdalene Mukami and Andrew Wasike
31 Oktober 2017•Update: 01 November 2017
KENYA
Presiden petahana Kenya Uhuru Kenyatta memenangkan pemilihan ulang yang kontroversial, menurut pengumuman komisi pemilihan umum Kenya pada Senin.
Ketua dewan direksi komisi pemilihan umum Kenya (IEBC) Wafula Chebukati bahkan sudah menyampaikan selamat kepada Kenyatta.
"Dengan ini saya mengakhiri proses pemilihan dan mengucapkan selamat kepada pemenang. Saya mendeklarasikan Uhuru Muigai Kenyatta dan William Samoei Ruto masing-masing sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih," kata Chebukati.
Kerumunan warga di Bomas, Kenya bersorak dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Kenyatta yang merayakannya pada 26 Oktober lalu, bertepatan dengan tanggal pemilu ulang.
Dalam pidatonya di tempat penghitungan suara di Bomas, Presiden Uhuru Kenyatta berterima kasih kepada Tuhan atas kemenangannya.
"Seperti yang anda tahu, sekali lagi saya berada di posisi ini. Semoga ini untuk terakhir kalinya. Sebagai warga Kenya, hari ini saya merayakan ketangguhan kita sebagai bangsa dan ketangguhan demokrasi dan warga kita. Negara lain manapun akan kesulitan menghadapi lika-liku politik di sini. Saya mengambil kesempatan ini untuk berterima kasih kepada Tuhan," jelas Kenyatta.
Kenyatta mengatakan dia tidak mengubah hukum elektoral karena banyak warga Kenya merasa dia tidak adil pada pihak oposisi.
Kemenangan Kenyatta di pemilihan kontroversial itu, yang diboikot penantangnya Raila Odinga, datang menyusul kekerasan yang dipicu perbedaan politik yang menewaskan empat orang serta melukai sejumlah lainnya.
Kamis pekan lalu, sejumlah bentrokan terjadi di beberapa lokasi di Kenya sementara pendukung oposisi absen memberi suara karena boikot. Jumlah pemilih yang hadir turun menjadi 34 persen saja dibandingkan 80 persen yang memberikan suara 8 Oktober lalu.
Lebih dari 60 orang tewas di Kenya sejak pemilu kepresidenan 8 Agustus lalu, yang dianulir pengadilan tinggi Kenya karena adanya ketidak teraturan dan tindakan ilegal.
Laporan dari Aliansi Sektor Swasta Kenya melaporkan warga mengalami kerugian 700 milyar shilling atau sekitar USD 6,7 milyar karena pemilu yang berulang-ulang itu.
Presiden Uhuru Kenyatta memenangkan pemilu dengan lebih dari 7 juta suara, atau 98 persen.
Rival politiknya Odinga, mantan perdana menteri, mendapatkan 70.000 suara walau menyuruh pendukungnya memboikot pemilu.