Andrew Wasike, Magdalene Mukami
31 Januari 2018•Update: 31 Januari 2018
Andrew Wasike, Magdalene Mukami
NAIROBI, Kenya
Pemimpin oposisi Kenya Raila Odinga dilantik sebagai presiden alternatif pada Selasa, meskipun pemerintah telah memperingatkan bahwa langkah tersebut adalah bentuk pengkhianatan.
"Saya menyadari sepenuhnya kewajiban saya sebagai presiden Kenya. Saya bersumpah dan dengan sungguh-sungguh menyatakan kesetiaan saya kepada Republik Kenya," ujar Odinga.
Ribuan pendukung oposisi memenuhi Taman Uhuru di Nairobi hingga tak ada lagi ruang tersisa untuk kendaraan melintas.
Upacara pelantikan ini dilakukan tiga bulan setelah Odinga mengklaim bahwa banyak penyimpangan dilakukan dalam pemilihan umum pada 8 Agustus dan 26 Oktober.
Organisasi hak asasi manusia di Kenya mengatakan bahwa lebih dari 100 orang tewas dalam kekerasan terkait polemik pemilihan presiden Kenya tahun lalu.
Pemerintahan Presiden Uhuru Kenyatta memberlakukan media blackout, dengan memblokir siaran stasiun TV lokal yang menayangkan upacara pelantikan.
Presiden Kenya Uhuru Kenyatta meraih jumlah suara terbanyak dalam pemilihan 8 Agustus. Hasil tersebut kemudian dibatalkan oleh pengadilan tinggi Kenya karena berbagai penyimpangan.
Raila Odinga, 73, memboikot pemilihan ulang yang diadakan pada 26 Oktober, dan mendesak reformasi penyelenggara pemilihan umum Kenya, Komisi Pemilihan Umum dan Batas Independen (IEBC).