Shweta Desai
17 Juli 2022•Update: 19 Juli 2022
PARIS
Personel polisi Paris diskors setelah video mereka menembakkan gas air mata kepada seorang tunawisma viral di media sosial, memicu perdebatan tentang kebrutalan polisi.
Dihadapkan dengan reaksi publik, polisi Paris mengeluarkan pernyataan lewat media sosial Twitter pada Jumat malam mengatakan telah menghubungi lembaga Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional untuk menyelidiki insiden penggunaan gas air mata oleh kru polisi.
Investigasi kriminal akan dibuka terhadap kru polisi yang berpatroli malam karena terlibat dalam kekerasan dengan senjata dinas.
“Pejabat yang telah diidentifikasi akan dikenakan skorsing,” kata polisi dalam tweet itu.
Video berdurasi 20 detik yang dipublikasikan di jejaring sosial menunjukkan sebuah kendaraan polisi berbelok di sebuah jalan di Bourget di pinggiran Seine-Saint-Denis setelah melihat seorang pria tunawisma di trotoar jalan.
Seorang polisi kemudian menyemprotkan sejumlah besar gas air mata ke wajah pria itu tanpa peringatan dan kendaraan melaju, sementara pria yang terkejut itu berteriak tak berdaya dan ambruk di trotoar.
Video yang diambil oleh seorang warga sipil dari gedung terdekat dan diposting di Twitter segera beredar luas sebagai kasus lain kebrutalan polisi Prancis.
Tunawisma yang diyakini mengalami gangguan mental diduga melemparkan benda-benda ke orang yang lewat, dan seorang pengendara sepeda memberi tahu polisi, kata saksi yang mengambil video itu mengatakan kepada FranceTV.
Politisi sayap kiri Raquel Garrido menulis kepada kepala polisi Paris tentang tindakan lebih lanjut terhadap oknum polisi yang menyebutnya "perilaku yang tidak dapat diterima."
Polisi Paris telah terlibat dalam beberapa insiden kekerasan tak beralasan dan kematian warga sipil.
Baru-baru ini, polisi menembaki penumpang kendaraan dalam dua peristiwa terpisah yang menyebabkan kematian dan cedera serius setelah korban menolak untuk mematuhi perintah mereka.
Pada tahun 2020, polisi tertangkap kamera CCTV melakukan kekerasan terhadap seorang produser musik kulit hitam di luar studionya karena diduga tidak mengenakan masker selama pandemi.