Maria Elisa Hospita
27 April 2018•Update: 27 April 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Senat Amerika Serikat pada Kamis mengukuhkan mantan direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) Mike Pompeo sebagai Menteri Luar Negeri di bawah administrasi Presiden Donald Trump.
Dengan perolehan suara 57-42, enam senator dari Demokrat mengkonfirmasi Pompeo menjadi menteri luar negeri.
Seluruh senator Partai Republik memberikan suara untuk Pompeo, kecuali Senator John McCain, yang tengah menjalani perawatan kanker otak di negara asalnya, Arizona.
Penunjukkan Trump oleh Pompeo telah menuai kontroversi, hingga nyaris membuatnya tersingkir dari komite.
Jelang hari terakhir, Senator Rand Paul akhirnya memberikan suara untuk Pompeo, setelah sebelumnya mengatakan bahwa calon tersebut kurang layak karena sering mencampuri urusan kebijakan luar negeri.
Perubahan drastis itu terjadi setelah Donald Trump berbicara langung dengan Paul dan meyakinkannya bahwa Pompeo sepakat bahwa perang Irak adalah sebuah kesalahan dan perubahan rezim di sana gagal menguntungkan kepentingan Amerika.
Selain kecenderungan campur tangan, Pompeo juga punya catatan hitam soal anti-Muslim. Setelah pengeboman Boston Marathon pada 2013, dia menuding para pemimpin Muslim-Amerika "bungkam" atas insiden tersebut, padahal belasan kelompok Muslim-Amerika turut mengutuk serangan teror dan menyuarakan dukungan bagi para korban.
Pompeo tidak pernah meminta maaf. Dia bahkan masih menjalin hubungan dekat dengan para ahli teori konspirasi yang terus-menerus menggaungkan propaganda anti-Muslim.
Trump yang memecat mantan Menlu Rex Tillerson melalui Twitter pada Maret, mengelu-elukan Pompeo sesaat setelah ia menerima konfirmasi dari Senat, dengan menyebutnya sebagai "patriot".
"Memiliki seorang patriot yang berbakat, kuat, dan cerdas seperti Mike untuk memimpin Departemen Luar Negeri akan menjadi aset luar biasa bagi negara kita di tengah masa kritis seperti ini," kata Trump dalam sebuah pernyataan. "Dia akan selalu mengutamakan kepentingan Amerika. Saya mempercayakan jabatan ini untuknya. Hari ini, saya mengucapkan selamat kepada Mike yang resmi menjadi Menteri Luar Negeri yang ke-70."
Kepemimpinan Pompeo dimulai di tengah sejumlah perkembangan kebijakan luar negeri yang sangat penting, termasuk pertemuan bilateral bersejarah antara Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Pompeo juga harus siap menghadapi kejatuhan jika Trump memutuskan untuk menarik AS keluar dari perjanjian internasional yang membatasi program nuklir Iran.
Pompeo dan Trump telah menentang kesepakatan itu, namun mitra negosiasi AS tak ada yang setuju bahwa menarik diri akan menguntungkan mereka.