Maria Elisa Hospita
21 Februari 2018•Update: 21 Februari 2018
Hajer M'tiri
PARIS
Prancis mengecam aksi kejahatan kemanusiaan oleh rezim Bashar al-Assad ke Ghouta Timur yang menelan 167 nyawa.
Kementerian Luar Negeri Prancis mendesak PBB untuk memberlakukan jeda kemanusiaan.
"Rezim Assad telah melakukan pelanggaran serius terhadap undang-undang kemanusiaan dengan melancarkan serangan semena-mena ke permukiman dan infrastruktur sipil," tulis kementerian lewat pernyataan.
Kementerian menambahkan bahwa serangan bom tersebut memperburuk situasi kemanusiaan di Ghouta Timur, di mana 400.000 penduduk sipil dikepung oleh pasukan rezim, termasuk 750 warga yang membutuhkan penanganan medis darurat.
"Tak hanya rezim Suriah yang bertanggung jawab atas penderitaan Ghouta Timur, namun Rusia dan Iran yang merupakan pendukung utama rezim sekaligus penjamin gencatan senjata juga patut bertanggung jawab," tegas kementerian.
"Prancis mendesak negara-negara mitra di Dewan Keamanan PBB untuk ikut bertindak dengan melaksanakan jeda kemanusiaan," tambah kementerian lagi.
Menurut Badan Pertahanan Suriah, dalam dua hari terakhir, sedikitnya 167 warga sipil terbunuh dalam serangan rezim ke pinggiran kota, Damaskus, Ghouta Timur, pada Selasa.
Helm Putih mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa serangan rezim ke Ghouta Timur telah menewaskan 88 orang pada Senin, dan 79 lainnya pada Selasa. Korban jiwa diperkirakan akan terus bertambah mengingat sejumlah serangan masih berlanjut di beberapa daerah.
Sejak 29 Desember 2017, rezim Suriah terus melancarkan serangan ke wilayah permukiman, hingga menewaskan sedikitnya 539 orang dan menyebabkan lebih dari 2.000 orang luka-luka.
Ghouta Timur merupakan rumah bagi 400.000 penduduk, yang menderita di bawah kepungan rezim selama lima tahun terakhir. Ghouta Timur berada dalam zona de-eskalasi - yang didukung oleh Turki, Rusia, dan Iran - yang melarang segala bentuk agresi.