21 Juli 2017•Update: 22 Juli 2017
Roy Ramos
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mencapai kota yang kini sedang terkoyak karena perang, Marawi, di mana pertikaian antara pasukan militer pemerintah dengan kelompok teroris Maute yang diperkirakan berafiliasi dengan Daesh menginjak hari ke-59, Kamis.
Dijaga ketat oleh pasukan militer, Duterte sampai di basis militer kota itu pada pukul 14.00, bersama dengan Kepala Pertahanan Delfin Lorenzana, Penasihat Keamanan Nasional Hermogenes Esperon, dan kepala militer Erduado Ano, lapor media lokal.
Perjalanan presiden ke Marawi ini dirahasiakan ke publik. Kantor kepresidenan baru mengumumkan kepergian Duterte ketika ia sudah meninggalkan kota pada jam 17.00.
Juru bicara militer Letjen Jo-Ar Herrera berkata kepada ABS-CBN News betapa senangnya para tentara karena diberi kesempatan untuk berbincang dengan presiden, bahkan menyamakan kunjungan singkat itu seperti “seorang ayah yang mengunjungi putranya,” sementara Duterte membakar semangat mereka dan menyampaikan dukungan atas operasi yang sedang mereka lakukan.
Di sana, Duterte menyampaikan pidato yang berisi rasa terima kasihnya kepada para penegak hukum, lalu memberikan beberapa hadiah berupa jam tangan.
Sebelumnya, 7-8 Juni lalu, Duterte harus membatalkan rencana untuk berkunjung ke Marawi karena cuaca buruk.
Pertarungan antara pemerintah dengan kelompok teroris Maute di MArawi, yang berlangsung sejak 23 Mei, memaksa Duterte melangsungkan darurat militer di Mindanao. Status ini akan segera berakhir pada 22 Juli.
Kunjungan Duterte kali ini hanya dua hari menjelang pertemuan Kongres pada Sabtu, untuk membahas permintaan Duterte untuk memperpanjang masa darurat militer.
Duterte juga dijadwalkan untuk melakukan pidato nasional pada Senin.