Iqbal Musyaffa dan Pizaro Gozali
JAKARTA
Rusia berharap perundingan damai Suriah di Astana, Kazakhstan, bisa melahirkan rekonsiliasi antara pihak Bashar Assad dan oposisi moderat, sekaligus hentikan krisis Suriah.
“Kami mengucapkan terimakasih kepada Astana. Di bawah pengawasan PBB perundingan menjadi lebih konkret meskipun banyak tantangan yang kami hadapi,” jelas Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin, di Jakarta, Rabu.
Dari perundingan ini, Rusia bisa melihat batasan jelas untuk membedakan oposisi moderat dan kelompok teroris seperti Daesh.
“Ini membantu kita melawan kelompok teroris yang sebenarnya,” kata dia.
Rusia juga mengkritik dan menilai AS gagal membedakan oposisi moderat dan Daesh, serta Front Al-Nusra. Serangan militer AS ke Suriah dinilai ilegal.
“Karena tidak ada undangan (serangan militer) dari pemerintah Suriah, tapi kami mengerti bahwa itu untuk melawan teroris,” ucap dia.
Namun, Rusia membuka peluang kerjasama dengan AS di Suriah. “Amerika sekarang lebih responsif untuk bersatu memerangi terorisme dan berdialog dengan pemerintah Suriah,” kata dia.
Terkait kritikan penerapan zona de-eskalasi yang masih dilanggar pemerintah Suriah, Galuzin menyangsikan data-data tersebut.
“Ini rumor yang dilakukan apa yang disebut Syrian Observatory of Human Rights yang berlokasi di London. Bagaimana ia melihat dari London apa yang terjadi di Suriah?” tanya dia menampik.
Perundingan damai di Astana, Kazakhstan, digelar untuk mengakhiri konflik Suriah. Perundingan ini ditengahi oleh Turki yang mendukung oposisi, Rusia, dan Iran yang mendukung rezim Bashar al-Assad.
Rusia mengajukan proposal dan menetapkan zona de-eskalasi di Provinsi Idlib, Ghouta Timur dekat Damaskus, sebelah utara kota Homs, dan selatan Suriah. Ketika zona de-eskalasi diterapkan, tindakan serangan kedua belah pihak tidak dibenarkan.
Namun organisasi White Helmets melaporkan, serangan terhadap zona de-eskalasi masih tetap terjadi. Pada 1 Agustus lalu, sedikitnya empat warga sipil terbunuh dan enam lainnya terluka saat pasukan rezim menyerang wilayah Ghouta timur.
“Mereka menembakkan 12 ‘rudal gajah’ di Distrik Ain Tarma yang dikuasai oposisi di Ghouta Timur, yang terletak di dalam zona de-eskalasi,” ujar Mahmoud Ethem, anggota pasukan pertahanan sipil Helmet Putih Suriah, kepada Anadolu Agency.
Suriah telah dilanda perang sipil sejak awal 2011, ketika rezim Assad melakukan tindakan atas protes pro-demokrasi. Sejak saat itu, lebih dari 250.000 orang telah terbunuh dan 10 juta orang mengungsi, menurut PBB.
news_share_descriptionsubscription_contact

