08 Agustus 2017•Update: 08 Agustus 2017
Hader Glang
ZAMBOANGA, Filipina
Amerika Serikat ingin menjaga hubungan dengan Rusia meskipun ada intervensi dalam proses pemilihan presiden AS, kata Sekretaris Negara Rex Tillerson, Senin.
“Saya rasa tidak ada gunanya memutus hubungan sepenuhnya hanya karena satu masalah saja,” katanya dalam konferensi pers di Manila. Ia menambahkan, kedua negara justru sebaiknya membangun kerja sama.
ABS-CBN melaporkan bahwa Tillerson telah mendiskusikan hal ini dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Minggu. Tillerson mengatakan bahwa ia telah berupaya keras untuk menekankan bahaya insiden yang dapat merusak hubungan dua negara.
Badan intelijen AS mengatakan bahwa Rusia berada di balik intervensi pemilu AS tahun lalu sehingga merugikan kandidat dari Partai Demokrat Hillary Clinton. Karena insiden tersebut, bulan lalu, Kongres AS akhirnya menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.
Rusia kemudian membalas pemberlakuan sanksi tersebut dengan memerintahkan pengurangan ratusan staf diplomat AS di negaranya. Penyelidikan terhadap dugaan adanya kontak antara tim kampanye Donald Trump dengan pejabat Rusia juga semakin memperparah ketegangan antara keduanya.
Baik Tillerson maupun Lavrov mengatakan hubungan antara 2 negara semakin membaik terkait soal Suriah, Ukraina, dan Korea Utara.
Menurut Tillerson, Rusia telah menunjukkan niatnya untuk berdialog secara terbuka dalam penyelesaian krisis Ukraina. Sementara itu, Lavrov juga mengumumkan bahwa AS akan mengirim utusan khususnya ke Moskow untuk berdialog.
Bagaimana AS dan Rusia menjadi penengah gencatan senjata di barat daya Suriah menunjukkan bahwa kedua negara tersebut dapat bekerja sama dengan baik.