Merve Aydogan
27 Desember 2022•Update: 28 Desember 2022
ANKARA
Kementerian Luar Negeri Turkiye pada Senin memanggil Duta Besar Prancis untuk Ankara Herve Magro atas "propaganda hitam" yang dilakukan kelompok teroris PKK terhadap Turkiye di tengah protes dengan kekerasan di Paris.
Dubes Prancis Magro dipanggil ke gedung kementerian di ibu kota Ankara setelah pendukung kelompok teroris PKK/PYD/YPG melakukan "propaganda hitam" terhadap Turkiye dan "pejabat dan beberapa politisi dari pemerintah Prancis telah menjadi alat propaganda ini" selama protes dengan menggunakan keras oleh para pendukung PKK menyebabkan puluhan petugas polisi terluka di ibu kota Prancis.
Pejabat Turkiye menyampaikan "ketidakpuasan" dan "reaksi" Ankara terhadap "propaganda hitam", menurut sumber tersebut.
Otoritas Turkiye mencatat bahwa pemerintah dan rakyat Prancis perlu "menganalisis secara tepat" insiden kekerasan di jalan-jalan Paris yang dilakukan oleh kelompok teroris PKK.
Ankara lebih lanjut menekankan harapannya dari Prancis untuk "bertindak dengan akal sehat di tengah insiden itu dan mencegah organisasi teroris tersebut melanjutkan kegiatannya yang berbahaya," kata pejabat kemlu Turkiye.
Setelah berkumpul di Place de la Republique pada Sabtu siang, ribuan pendukung kelompok teror itu berjalan sambil berbaris ke Boulevard du Temple meneriakkan slogan-slogan pro-PKK dan membawa poster pemimpin kelompok teroris itu.
Mereka kemudian membongkar batu paving dan melemparkannya ke arah polisi, rumah dan toko terdekat. Para penyerang juga menghancurkan halte bus di sekitar.
Polisi Prancis pun melakukan intervensi di tempat kejadian secara terbatas, kadang-kadang menggunakan gas air mata terhadap para penyerang.
Pada Jumat, seorang pria bersenjata berusia 69 tahun di Paris melepaskan tembakan secara acak, dan menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai tiga lainnya, menurut laporan media setempat.
Jaksa Paris Laure Beccuau pada Minggu mengatakan bahwa penembak, bernama William M., yang menurut media lokal dia memiliki kebencian "patologis" terhadap orang asing dan dia "ingin membunuh orang asing" setelah perampokan di rumahnya pada tahun 2016.
Dalam kampanye terornya melawan Turkiye selama lebih dari 35 tahun, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turkiye, Amerika Serikat (AS), dan Uni Eropa (UE) – bertanggung jawab atas kematian lebih dari 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi.
Meski mereka secara resmi dilarang, namun kelompok teroris PKK masih menunjukkan kehadiran mereka di banyak negara Eropa.