Ata Ufuk Şeker
22 Desember 2017•Update: 23 Desember 2017
Ata Ufuk Şeker
BRUSSELS
Uni Eropa (UE) mengutuk serangan dan pengepungan yang masih berlanjut di Ghouta Timur, Suriah, serta pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rezim Bashar al-Assad di negara ini.
Perwakilan Tinggi UE untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Federica Mogherini dalam sebuah pernyataan tertulis mengungkapkan kekhawatiran UE atas kehidupan jutaan warga Suriah.
“UE merasakan kekhawatiran yang mendalam terhadap lebih dari 1,3 juta orang yang tinggal dalam kondisi pengepungan seperti di Suriah, juga 13,1 juta orang yang membutuhkan bantuan di seluruh negara tersebut yang tapi tidak mendapatkannya,” tulis pernyataan tersebut.
UE, dalam pernyataan sama, meminta rezim Bashar al-Assad untuk segera mengizinkan distribusi bantuan dan evakuasi medis di Suriah.
“Perang di Suriah masih sangat jauh dari akhir. UE mengutuk keras pelanggaran HAM yang sistematis, meluas, pelanggaran berat HAM di Suriah, serangan yang terjadi baru-baru ini, dan pengepungan yang masih berlanjut di Ghouta Timur,” tambah pernyataan tersebut.
Dalam pernyataan tersebut, rezim Assad disebutkan secara jelas melanggar hukum internasional dan keputusan Dewan Keamanan PBB dengan menghalangi distribusi bantuan dan evakuasi medis di Ghouta Timur.
Pernyataan UE juga menekankan pentingnya proses perundingan Jenewa yang dipelopori PBB untuk memastikan solusi permanen di Suriah. Dalam hal ini, rezim Asad disebutkan telah menghambat kemajuan perundingan.
Sejak perang sipil merebak di Suriah pada Maret 2011, PBB melansir lebih dari 250.000 orang tewas. Lembaga Syrian Center for Policy Research mengatakan jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar, diperkirakan melebihi 470.000 orang.
Perang sipil di Suriah dimulai ketika rezim Bashar al-Assad mulai menindak keras demonstrasi pro-demokrasi. Ratusan ribu warga sipil menjadi korban konflik itu yang melibatkan pasukan koalisi menyerang oposisi. Jutaan lainnya terpaksa melarikan diri dan mengungsi.