Safvan Allahverdi
04 April 2018•Update: 05 April 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Selasa mengatakan AS sedang di tengah "dialog yang intensif" dengan Turki terkait Suriah.
Jenderal Joseph Votel menyatakan itu dalam sebuah forum mengenai situasi Irak dan Suriah yang digelar oleh Institut Perdamaian Amerika Serikat, lembaga riset asal Washington.
Votel menekan pentingnya komunikasi antara kedua negara sekutu NATO itu dengan tujuan memperbaiki situasi dan berupaya memecahkan masalah melalui diskusi.
Washington dan Ankara memiliki "saluran terbuka" untuk berdialog, kata Votel.
"Bila mereka merasa harus melakukan operasi keamanan untuk melindungi negara, kami bisa berbincang dengan mereka dan memastikan tidak ada konflik kepentingan, serta mengkonfirmasi pasukan kami tidak berada di wilayah itu," terang Votel.
Kelompok YPG/PKK adalah "rekan penting di lapangan", kata Votel, yang juga mengklaim bahwa operasi militer Turki untuk menumpas teroris di Afrin melambatkan upaya koalisi AS memerangi Daesh.
Dia mengatakan pasukan harus terus menekan Daesh, dan diskusi serta diplomasi juga harus terus berjalan untuk mencegah situasi yang tidak diinginkan.
Selain itu, isu Manbij yang menimbulkan ketegangan antara AS dan Turki juga diungkit, namun Utusan Khusus Presiden untuk Koalisi Global untuk Menumpas ISIS Brett McGurk mengatakan proses diplomatik yang terus berjalan berupaya untuk mencairkan ketegangan itu.
Turki pada 20 Januari lalu meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin, Suriah.
Ankara mengatakan mereka mungkin akan meluaskan operasi itu hingga Manbij bila kelompok PYD/PKK tidak segera angkat kaki.
Namun dukungan AS terhadap PYD/PKK di Manbij mengeruhkan hubungan Ankara dan Washington serta menimbulkan kekhawatiran bentrokan militer antar-negara, dengan adanya sekitar 2.000 prajurit AS di kota itu.
AS mendukung kelompok SDF, yang merupakan cabang Suriah dari kelompok teroris PKK yang sudah 30 tahun ini memerangi pemerintahan Turki.