Abdullah Tel, Adham Kako
05 April 2018•Update: 06 April 2018
Abdullah Tel, Adham Kako
AFRIN, Suriah/ANKARA
Warga sipil yang disekap oleh kelompok teror YPG/PKK di sel-sel penyiksaan angkat suara mengenai situasi yang mereka hadapi ketika Afrin dikuasai oleh teroris.
Menurut laporan TRT Kurdi, teroris bahkan menyerang perempuan dan anak-anak di penjara yang mereka bangun di distrik Racu, yang baru saja dibebaskan oleh pasukan yang didukung Turki di tengah Operasi Ranting Zaitun.
Laporan itu menunjukkan adanya "sel kelam" dimana kelompok teroris bertindak brutal terhadap warga Suriah yang dijebloskan ke dalam.
Komandan Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) Ehmed Badirli menggambarkan kepada TRT Kurdi siksaan yang dihadapinya di dalam sana.
"YPG/PKK membanting kepala saya hingga menabrak dinding sel. Telinga saya berdarah dari dalam.
"Satu telinga itu sekarang rusak total. Mereka membunuh anak dan istri saya.," kata Badirli.
Seorang korban lainnya, Nadil Heydar, adalah seorang dokter. Dia menceritakan kepada Anadolu Agency bagaimana dia dibuat buta.
"Dua orang mendatangi saya dan mengikat tangan saya. Saya diikat ke sebuah kursi.
"Mata saya dibuka dan mereka memadamkan rokok di mata saya. Mereka menghempas saya ke tanah. Perut dan punggung saya habis dipukuli. Mulut saya diikat sehingga tidak bisa bersuara."
-- Tidak ada harapan dalam 'sel'
Azad Ahmet, seorang warga sipil dari Afrin, mengatakan: "Ini adalah sel yang kelam, tidak ada harapan lagi bagi mereka yang dimasukkan ke sini.
"Para korban dibuat buta dan tuli. Mereka mematahkan tulang kaki dan rusuk tawanan sel."
Ahmet juga mengatakan ada lebih dari seratus sel serupa yang digunakan teroris YPG/PKK untuk membantai warga. Menurutnya, warga terancam disiksa di sel-sel itu bila mereka menolak bergabung dengan kelompok tersebut.
"Mereka mengatakan 'bila anda tidak bersama kami, kami akan membuat anda buta, tuli, dan memotong lidah anda di sel ini'.
"Di sel ini, kematian berarti korban akhirnya bisa bisa bebas. Teman-teman kami pernah mengalami telinga mereka ditarik copot menggunakan tang, kuku-kuku jari mereka ditarik satu per satu, dan sebagainya," terang Ahmet.
Yusuf Abdurrahman, pria berusia 24 tahun dari Afrin, mengatakan: "Kelompok teror YPG/PKK menindas semua warga sipil tanpa kecuali."
Banyak perempuan juga dibunuh karena tidak mendukung para teroris, kata Abdurrahman. Dia juga mengatakan YPG/PKK melakukan semua upaya untuk merusak kenyamanan publik.
Turki pada 20 Januari lalu meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin, Suriah.
Pada 18 Maret, pasukan yang didukung Turki membaskan kota Afrin yang menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK ketika rezim Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut kepada kelompok teror tanpa pertempuran pada Juli 2012 silam.