İqbal Musyaffa
16 Mei 2019•Update: 16 Mei 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Rapat Gubernur Bank Indonesia, Kamis, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-day reverse repo rate tetap sebesar 6 persen. Suku bunga acuan di level 6 persen telah berlangsung secara berturut-turut sejak 15 November 2018.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan BI juga menetapkan suku bunga deposit facility 5,25 persen dan suku bunga lending facility 6,75 persen.
“Keputusan tersebut sejalan dengan upaya menjaga stabilitas eksternal perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat,” ujar Perry.
Dia menambahkan Bank Indonesia akan terus mencermati kondisi pasar keuangan global dan stabilitas eksternal perekonomian Indonesia dalam mempertimbangkan terbukanya ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.
Bank Indonesia juga tetap memastikan ketersediaan likuiditas di perbankan serta menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif antara lain dengan mempertahankan rasio Countercyclical Capital Buffer (CCB) sebesar 0 persen, rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 4 persen dengan fleksibilitas repo sebesar 4 persen, dan kisaran Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) sebesar 84-94 persen.
“Kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan juga terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi,” lanjut Perry.
Perry menekankan koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait terus dipererat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing.
Perry melanjutkan BI melihat pemulihan ekonomi global lebih rendah dari perkiraan dengan ketidakpastian pasar keuangan yang kembali meningkat.
Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan menurun dipicu stimulus fiskal yang terbatas, pendapatan dan keyakinan pelaku ekonomi yang belum kuat, serta permasalahan struktur pasar tenaga kerja yang terus mengemuka.
Dia menambahkan perbaikan ekonomi Eropa diperkirakan lebih lambat akibat melemahnya ekspor, belum selesainya permasalahan di sektor keuangan, serta berlanjutnya tantangan struktural berupa aging population.
“Ekonomi China juga diperkirakan belum kuat, meskipun telah ditempuh stimulus fiskal melalui pemotongan pajak dan pembangunan infrastuktur,” tambah dia.
Menurut Perry, pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat berpengaruh kepada volume perdagangan dan harga komoditas global yang menurun, kecuali harga minyak yang naik pada periode terakhir dipengaruhi faktor geopolitik.
Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan dunia yang meningkat dipengaruhi oleh eskalasi perang dagang AS dan Tiongkok sehingga kembali memicu peralihan modal dari negara berkembang ke negara maju, meskipun respon kebijakan moneter global mulai melonggar.
“Kedua perkembangan ekonomi global yang kurang menguntungkan tersebut memberikan tantangan dalam upaya menjaga stabilitas eksternal baik untuk mendorong ekspor maupun menarik modal asing,” ungkap Perry.