Muhammad Nazarudin Latief
01 Agustus 2018•Update: 01 Agustus 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah akhirnya memberikan hak pengelolaan produksi blok Rokan pada PT Pertamina.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Archandra Tahar mengatakan ini adalah keputusan bisnis setelah mempertimbangkan proposal perusahaan negara tersebut yang dinilai lebih baik dibanding tawaran lain.
Pertamina memberikan signature bonus sebesar USD784 juta atau sekitar Rp11,3 triliun dan nilai komitmen pasti sebesar USD500 juta atau Rp7,2 triliun dalam aktivitas eksploitasi migas.
Potensi pendapatan negara selama 20 tahun ke depan diperkirakan sebesar USD57 miliar atau sekitar Rp825 triliun. Pengelolaan oleh Pertamina juga memberi dampak devisa karena, bisa mengurangi impor.
“Ini sekaligus membuktikan bahwa secara keuangan Pertamina masih baik,” ujar Archandra dalam siaran persnya, Rabu.
Blok Rokan sendiri merupakan blok migas yang bernilai sangat strategis, dengan kapasitas lebih dari 200 ribu barel per hari, atau terbesar di Indonesia. Produksinya menyumbang 26 persen dari total produksi migas nasional.
Blok dengan luas 6.220 kilometer ini memiliki 96 lapangan. Sebanyak tiga lapangan di antaranya berpotensi menghasilkan minyak sangat baik, yaitu Duri, Minas dan Bekasap. Sejak beroperasi pada 1971 hingga akhir 2017 lalu, blok ini sudah menghasilkan 11,5 miliar barel minyak.
Kontrak blok ini sebelumnya dipegang oleh perusahaan internasional Chevron dan berakhir pada 2021. Meski berakhir di Rokan, pemerintah berharap Chevron tetap berinvestasi pada industri hulu migas di Indonesia dengan mengelola blok lain yang juga potensial.
Menurut Archandra, menjadi pengelola blok Rokan akan membuat Pertamina lebih kuat dan meningkatkan kontribusinya pada produksi migas nasional.
Porsi produksi Pertamina kini meningkat dari sekitar 23 persen menjadi sebesar 36 persen pada 2018 dan diperkirakan akan menjadi 39 persen pada 2019, saat blok migas terminasi mulai aktif dikelola Pertamina.
Pertamina bahkan sudah sejajar dengan world top oil company yang mampu menguasai 60 persen produksi migas nasional pada 2021.
Plt Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan pengelolaan produksi blok Rokan akan meningkatkan produksi hulu Pertamina dan menghemat devisa sekitar USD4 miliar per tahun karena pengurangan impor. Selain itu, secara jangka panjang juga akan menurunkan biaya produksi hilir.
"Kami menilai pemerintah mempertimbangkan keputusan ini dengan matang, dalam rangka ketahanan energi nasional, penghematan devisa dan potensi peningkatan deviden bagi negara,” ujar dia dalam siaran persnya.
Menurut Nicke, karakteristik minyak di Blok Rokan sesuai dengan konfigurasi kilang nasional dan akan diolah di dalam negeri yakni di kilang Balongan, Dumai, Plaju dan Balikpapan.
Selama semester I/2018, lifting Rokan sebesar 207.148 barel per hari (bph) atau di bawah target 213.551 bph. Menurut data pemerintah, cadangan Blok Rokan sekitar 500-1,5 miliar barel setara minyak (BOE).
Menurut Nicke, Pertamina akan memanfaatkan teknologi Enhance Oil Recovery (EOR) yang telah diterapkan di lapangan-lapangan migas Pertamina, seperti di Rantau, Jirak, Tanjung untuk mempertahankan produksi. Selain itu akan diterapkan steamflood yang berhasil di lapangan PHE Siak.