İqbal Musyaffa
09 Mei 2018•Update: 09 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa cadangan devisa Indonesia terus tergerus dengan posisi pada akhir April sebesar USD124,9 miliar.
Posisi cadangan devisa tersebut, menurut BI, setara dengan pembiayaan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman melalui keterangan resmi, Selasa, mengatakan cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Dia juga mengatakan, jumlah cadangan devisa berkurang USD1,1 miliar dari posisi pada akhir Maret yang ketika itu berjumlah USD126 miliar.
Cadangan devisa terus merosot seiring dengan tekanan yang masih dialami oleh rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bahkan saat ini sudah mencapai Rp14 ribu.
Pada akhir Januari lalu, cadangan devisa sempat berada pada level USD131,98 miliar. Kemudian pada akhir Februari berkurang menjadi USD128,06 miliar.
“Penurunan cadangan devisa pada April 2018 terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi,” ungkap Agusman.
Meski begitu, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung terjaganya keyakinan terhadap prospek perekonomian domestik yang membaik dan kinerja ekspor yang tetap positif.
Sementara itu, Senior Vice President Intermediary Business Schroders Adrian Maulana mengatakan kepada Anadolu Agency, BI seharusnya tidak terus-menerus mengandalkan cadangan devisa untuk melakukan intervensi pasar guna menjaga stabilisasi nilai tukar.
Dia menilai, perlu ada kebijakan lain yang dilakukan salah satunya dengan mulai menaikkan suku bunga BI 7 Days Repo Rate.
“Investor menganggap Indonesia kurang menarik karena tetap mempertahankan suku bunga sementara tren global saat ini mulai meninggalkan bunga murah,” ujar Adrian.
Tekanan terhadap rupiah, menurut dia, lebih disebabkan oleh banyaknya investor asing yang menjual portofolio investasinya yang ada di Indonesia sehingga kebutuhan terhadap dolar AS meningkat dan membuat rupiah semakin terpuruk.